Modernisasi Idul Fitri Yang Menodai Makna Kesucian

Bingung juga nih mo mulai dari mana…..Lebaran kemaren kebetulan saya dapat tugas nemanin father konser di Solok. Mother ‘n keluarga yang laen udah pulang duluan ke kampungnya nenek di Air Bangis Pasaman. sehabis sholat ied, saya ma fther langsung tancap gas nyusulin mother ke Air Bangis, kita berangkatnya jam 9.30 WIB waktu Solok. Jalanan yang kami tempuh tidak begitu macet dan masih terlihat lengang, mungkin orang-orang masih sibuk sungkem sana sungkem sini ke rumah kelauarganya. Solok - Padang kami tempuh dalam tempo 1,5 jam, perjalananpun lanjut menuju Pariaman. Di Pariaman kita sedikit menemukan kemacetan karena waktu itu jam di dashboard mobil menunjukkan pukul 11.15 WIB sehingga aktifitas anak-anak yang bersuka ria dengan lebaran sudah banyak bermunculan di jalanan.

Pukul 12.30 Wib me ‘n my father sholat zuhur di salah satu mushalla di daerah Tiku (mushalla ini udah jadi langganan kalo kami bertolak ke kampung, biasanya sih kita sholat dan juga rehat sebentar disana).

Memasuki daerah Pasaman Barat tepatnya di daerah Kinali kita disuguhkan dengan kemeriahan lebaran yang ditandai dengan keramaian yang terjadi baik di jalanan maupun di pusat-pusat perbelanjaan di beberapa pasar tradisional setempat.

Dari beberapa keramaian, saya melihat ada yang aneh pada lebaran kali ini, ada Pohon pinang yang ditancapkan ke tanah dan diatasnya ada lingkaran dari batang bambu yang dipenuhi oleh hadiah-hadiah yang di bungkus dengan plastik. Melihat keramaian tersebut saya langsung teringat dengan tanggal 17 Agustus kemaren, disetiap pelosok daerah dipenuhi dengan acara panjat pinang dan acara lainnya. Rasa penasaran ada dalam pikiran saya terpaksa buyar karena mobil yang saya kemudikan melalui jalanan yang banyak menawarkan lobang-lobang yang cukup asik kalo di lalui dengan kecepatan tinggi (kapan ya……jalanan di Sumatera Barat ini mulus dan nyaman dilalui)

Masih di Kawasan kinali saya menemukan lagi atraksi panjat pinang di halaman sebuah rumah penduduk yang banyak dikerumuni oleh masyarakat. Saya langsung berpikir kalo kegiatan ini cuman kebetulan saja sama di dua daerah tadi.

Mendekati Simpang Empat, panjat Pinang ini saya jumpai lagi, kali ini lebih meriah dengan diiringi oleh musik orgen yang melantunkan lagu-lagu dangdut.

Pikiran yang masih terarah ke acara panjat pinang tadi buyar karena saya memasuki daerah pasar Simpang empat, saya berhenti sebentar untuk membeli minuman (kebetulan father lagi panas dalam, makanya saya berniat untuk membelikan minuman penyegar panas dalam).

Perjalanan dilanjutkan kembali, di Kenagarian Air Gadang kami menemukan kembali acara yang sama dengan di 3 tempt terdahulu. Ada acara panjat pinang dan hiburan orgen, parahnya….orgen tunggal (pementasan musik tradisional) disini menampilkan lagu-lagu yang kayaknya tidak layak di munculkan untuk menyambut datangnya hari kemenangannya umat islam. Lagu- lagu yang dilantunkan tersebut jelas-jelas mengundang goyangan seronok baik dari penonton maupun dari penyanyinya sendiri, pakaian penyanyinya sih….masih sopan….tapi goyangannya yang benar-benar tidak sopan.

Inilah yang tetap menjadi tanda tanya yang besar baik bagi saya maupun bagi orang lain yang berkesempatan melihat acara tersebut. Apakah ini anjuran pemerintah daerah (Bisa jadi untuk memberikan alternatif hiburan kepada masyarakat supaya tidak melakukan perjalanan dengan motor atau truk-truk ke beberapa daerah objek wisata seperti ke Sasak, Pariaman ataupun ke air Bangis) ataukah cuman kesepakatan dari pemuka-pemuka masyarakat disana.

Yang sangat disayangkan, kenapa norma-norma kesucian idul fitri ini dirusak dengan penampilan musik yang tidak layak dipamerkan kepada muslimin dan muslimah yang baru saja kembali ke fitrahnya, malahan diantara penonton tersebut ada anak-anak (Balik lagi donk nafsunya kalo ngliat artis goyang seronok kayak gitu).

Tahun kemaren Kita digoncangkan dengan kegiatan mabuk masal dari beberapa masyarakat di beberapa kawasan, bahkan ada yang memakan korban. Tahun ini pun kegiatan-kegiatan seperti itu masih terlihat di luar sumatera sana. apakah kita tidak bisa berkaca dari pengalaman yang ada, mau dikemanakan adat negeri ini kalau masyarakatnya sendiri yang akan menjerumuskannya.
Semuanya berharap lebaran tahun depan akan lebih bagus lagi dari pada tahun ini, baik dari segi kegiatan, keamanan, ketertiban, dan juga kenyamanan dari segala pihak yang akan menikmati berlebaran di kampung halamannya. Berikan bekal cerita yang baik-baik kepada sanak saudara perantau, sehingga akan bisa disebar virus-virus keindahan negeri kita kepada penduduk negeri lain di Indonesia ini.

Possibly Related Posts:


Sharing di Situs Jejaringmu:
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Twitthis
  • MySpace
  • RSS
  • Twitter

October 07 2008 04:35 pm | Pemikiran Dejavu

4 Responses to “Modernisasi Idul Fitri Yang Menodai Makna Kesucian”

  1. ai Says:

    ai heran, orang - orang indonesia kok banyak yang jelek2 yah kelakuannya…??? apa karena indonesia masih negara berkembang..????
    maaf lahir bathin ajha deh bang :D

  2. AQ Says:

    apakah dengan sejumput keluhan saja smua akan terselesaikan ?
    itu “PR” kita2 smua pak..
    rangkul pemuka masyarakat& pemuda setempat tuk membangun daerah kearah yang lebih baik, lebih religius
    yang pasti..
    masyarakat kecil butuh hiburan
    sementara yang mereka mampu saat ini baru sebatas itu
    hanya itu yang mereka punya
    apakah hiburan itu layak disajikan pada suasanan nan fitri
    terlepas dari pantes or not

    so..
    lets think together

  3. avartara Says:

    jangankan didaerah yang jauh dari ibu kota Pak,… ditempat saya aja acara yg seperti itu juga ada. 1 bulan “pendidikan” nafsu rupanya tidak berguna, malahan “mereka” berpesta seakan merayakan kebebasannya kembali. Nauzubillahi Minzalik. Sangat prihatin, sangat. :)

  4. Djazman85 Says:

    Masalah jalan nih Pasaman Barat dah diperbaiki dan diperlebar. tinggal Jalan Propinsi lagi… utk masalah ini diserahkan ke Propinsi kan.

    Klw masalah Pancat Batang pinang itu wajar.
    “ADAT BASANDI SARAK, SARAK BASANDI KITABBULLAH”
    Syariat tetap jalan, sedangkan Adat tetap kita lestarikan.

    Maaf bro! utk daerah Kinali Masalah orgen tunggal & Miras dah ada larangannya khususnya. dan itu keputusan dah ditetapkan di Kecamatan disetujui oleh CAMAT, KAPOLSEK, WALI NAGARI, BABINSA DLL bro. Gak tau kecamatan lain pa dah dibikin atw belum.

Leave a Reply