Tour de Kaltim (Balikpapan-Penajam)

Cerita berikut merupakan lanjutan dari posting saya tentang “Kaltim di Ginyang Mak Taci”.

Tim BN berangkat menuju Balikpapan -Kaltim guna mengikuti Porseni BPD-SI pada tanggal 16 Juli 2008. Kegiatan Porseni akan dimulai pada tanggal 18 s/d 20 Juli 2009, sehingga pada tanggal 20 Juli semua tim yang ikut berlomba pada setiap cabang yang diperlombakan akan kembali ke daerah mereka masing-masing. Tim BN pun mempunyai agenda yang sama dengan Tim BPD yang lain, sehingga pada tanggal tersebut semua rekan-rekan udah bersiap untuk kembali ke Kota Padang.

Tim BN di Lobi Hotel bersiap untuk ke Bandara

Kebetulan sebelum keberangkatan ke Kaltim saya telah mengajukan permohonan cuti supaya saya bisa mendapatkan waktu agak lebih guna menikmati suasana daerah baru yang kebetulan bisa saya jajah. Permohonan cutipun dikabulkan sehingga pada tanggal 20 Juli tersebut dengan berat hati rekan-rekan harus pulang tanpa keberadaan saya dalam perjalanan mereka….saya merasa yakin bahwa perjalanan yang dilakukan menuju Padang sangat-sangat kurang bergairah karena saya tidak ada…..hahahaha (kalo ada anggota tim yang baca ini, komennya dibikin setuju aja ya….sip).

Hari senin pagi tanggal 20 Juli saya dijemput oleh seorang teman lama sewaktu college di Syari’ah Banking Program di Padang.  Kamipun berbincang-bincang sebentar sambil melepas cerita. Setelah mengambil barang-barang dan check-out dari hotel, kami pun bergerak ke pelabuhan kampung baru untuk menjemput salah seorang rekan yang juga satu kuliahan..(kebetulan ada 2 orang teman kuliah saya yang berkegiatan dan berjuang di daerah Balipapan tersebut).

Setelah bertemu, kami pun sarapan pagi dengan menu coto makasar di klandasan (benar nggk sih namanya…..). Setelah diskusi sebentar mengenai lokasi-lokasi wisata yang wajib saya kunjungi, akhirnya kamipun memutuskan untuk mengunjungi tempat panangkaran buaya yang terletak kira-kira setengah jam perjalanan dari Pusat Kota Baliikpapan.

Gajahnya sempat ngejar pas di photo, untung kakinya dirantai

Di Pusat Penagkaran Buaya ini, saya berputar-putar sekitar satu jam-an, selain Buaya ada juga uLar serta beberapa ekor gajah yang juga menjadi binatang penangkaran, setelah puas berpose dan berakrab-akrab dengan buaya disana, kami pun bergerak kembali ke arah kota Balikpapan.

Rumah adat Kaltim

Bersama pawang Gajah (Benny dan yaeh)

Kamipun mencoba menuju ke pantai…(saya juga lupa nama pantainya…) dan disana kita minum es kelapa muda sambil menikmati para wisatawan baik lokal maupun interlokal bermain voly pantai, AVP, banan Boat dan beberapa olah raga ekstrem lainnya.

Setelah dari pantai, saya mengajak teman-teman tersebut mencari view yang bisa menyajikan suasana kota Balikpapan secara utuh. Mereka pun mengajak saya ke Perumahan Pertamina yang kebetulan berada diatas bukit yang cukup tinggi di tengah-tengah Kota. Akhir perjalanan saat itu berujung di daerah Kebun Sayur yang merupakan sentra perdagangan souvenir dan juga bebatuan ekslusif khas Kaltim, disana kita bisa memilih oleh-oleh mulai dari baju, peralatan rumah tangga khas, sarung sutra, bermacam acesoris (gelang, kalung, cincin, dll) serta mandau dan tameng asli dayak.

Tokonya mas Adhy (nasabah dari teman yang baju merah….”yaeh”)

Acesoris suku dayak

Kolaborasi Koboi dan Dayak

Setelah cukup menikmati keindahan dan objek wisata di Kota Balikpapan, saya dihadapkan dengan perjalanan tambahan menuju kota Penajam, salah seorang rekan tersebut hidup, berjuang serta lokasi banting tulangnya di daerah tersebut. Penajam merupakan Kabupaten, akan tetapi jika dilihat dari PAD yang mereka torehkan tiap tahunnya bisa mengalahkan Propinsi yang ada di  belahan Indonesia.

Perjalanan ke Penajam jika dilakukan melalui darat bisa memakan waktu 2 jam karena harus memutar, sehingga ada transportasi alternatif  untuk memotong jalur tersebut dengan menyeberangi lautan dengan memakan waktu sekitar 10 menitan kurang. Ongkosnya pun tidak begitu mahal, cukup dengan uang 10 ribu per orang kita bisa menaiki speed boat yang bisa melaju dengan cepat di atas air laut, dan Rp 7 ribu dengan kelotok yang bisa memakan waktu sekitar kurang dari setengah jam.

Diatas Speed Boat

Pengalaman di atas speed boat ini merupakan pengalaman baru bagi saya, kebetulan kampung saya di Air Bangis Pasaman juga merupakan daerah laut dan saya sering melakukan perjalanan dengan menggunakan boat ataupun mesin tempel. Akan tetapi speed boat yang digunakan disini berbahan fiber dan terkesan ringan, sehingga guncangan-guncangan cukup terasa…(ada sedikit tips yang diberikan oleh rekan saya waktu itu, jika ada guncangan…ikutin aja arahnya jangan ditahan, supaya perut tidak mual dan kepala tidak pusing).

Postingan ini baru cerita awal dari perjalanan saya di Kaltim, ada beberapa cerita-cerita unik lainnya yang nantinya akan saya sajikan…..

Possibly Related Posts:


Sharing di Situs Jejaringmu:
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Twitthis
  • MySpace
  • RSS
  • Twitter

August 03 2009 01:50 pm | Dejavu Jalan-jalan

Leave a Reply