Tour De Kaltim (Balikpapan-Samarinda-Kutai Kertanegara)
Lanjutan crita Tour De Kaltim terdahulu, saya menginap di rumah rekan saya di Penajam. Rumah disana seperti rumah kebanyakan di daerah lain, tidak begitu banyak hal yang membedakannya. Akan tetapi suasana yang tenang, sepi dan tidak dihebohkan oleh kebisingan kendaraan memberikan suasana yang nyaman untuk beristirahat.

Bareng Puanganca
Setelah makan malam di salah satu rumah makan padang yang ada di sana (kalo nggk salah namanya “Rumah makan Lembah Anai”), kami pun bercerita sedikit mengenai perjuangan2 dimasa kuliah dulu. Jam di dinding menunjukkan angka 24.00 WITA, karena kepenatan yang mendera…saya pun bergerak ke kamar untuk mencoba menikmati tempat tidur yang telah disediakan. Besoknya saya mesti berangkat pagi2 ke Samarinda untuk memulai tour wisata saya di Kaltim.
Pukul 5.00 WITA saya terbangun dan langsung mandi, setelah selesai berbenah dan menyiapkan segala kebutuhan. Saya pun disuguhi sarapan berupa nasi bertemankan telor dadar, selain itu juga ada kue khas yang saya juga lupa namanya….akan tetapi karena kurang begitu familiar dengan lidah, kue tersebut tidak bisa saya habiskan sampai ke akar2nya….
Perjalanan dimulai dengan menyeberangi Lautan Penajam menuju BalikPapan, sesampai di balik papan saya naik angkot ke station bus (rencananya mo berangkat naik motor, karena saya berpikir…kalo pake motor bisa lebih leluasa dan bisa berhenti kapan dan dimana saja, tapi hal itu dilarang oleh rekan saya tersebut karena cuaca Kaltim lagi nggk menentu…takutnya kehujanan dijalan).
Perjalanan diatas Bus memakan waktu kurang lebih 2 jam, didalam perjalanan saya melihat kondisi alam Kaltim yang masih banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon besar yang sudah semestinya di lestarikan. Dari cerita rekan yang menemani perjalanan saya kali ini (namanya DIRMAN) banyak pohon2 yang ditebangi oleh pembalak liar terutama di kawasan Taman Hutan Raya Soeharto yang memiliki luas daerah sangat besar. Kalimantan tercatat sebagai daerah yang sangat cepat mengalami penggundulan dan Kalimantan merupakan daerah harapan dunia sebagai penahan arus global warming di dunia, karena memiliki daerah-daerah yang masih asri dan ditumbuhi pohon2 yang menyejukkan iklim.
Sesampai di Kota Samarinda, kami pun berkunjung sebentar ke tempat saudaranya Dirman untuk mengambil motor. Kota Samarinda terlihat lebih semrawut daripada Balikpapan, karena jalanan kotanya kecil, serta tatanan kota yang nggk terlalu teratur dengan baik. Akan tetapi Samarinda merupakan Ibukota Propinsi Kalimantan Timur, sedangkan Bandaranya terletak di Kota Balikpapan. Cuaca di Kalimantan Timur ini sangat panas, nggk jauh beda ama Kota Padang tapi di Padang panasnya kadang2 dimulai pukul 12-an sampai pukul 3-an sore. Akan tetapi di Kaltim dari pukul 10 pagi panasnya udah kayak matahari diatas kepala….menyengat kulit.
Setelah berhasil mendapatkan motor (suzuki shogun), kamipun bergerak menuju Tenggarong tepatnya di Kutai Kertanegara. Perjalanan ke Kutai memakan waktru tempuh sekitar 30 menit. Perjalanan ini sedikit ekstreem bagi saya, dikarenakan Dirman tidak memiliki SIM….maka saya secara aklamasi terpilih untuk mengendarai motor tersebut melalui jalanan yang belum pernah saya tempuh. Cuaca sangat terik, dan terkadang bikin dehidrasi….jalanan banyak ditutupi debu, terkesan sekali bahwa jalan tersebut sedang dalam proses pengerjaan atau ada perbaikan sehingga banyak pasir yang beterbangan secara bebas di udara.

Kondisi kaki yang masih terbalut perban
Ada satu hal lagi yang belum saya ceritakan pada cerita sebelumnya, disaat perlombaan yang kami ikuti pada Porseni BPD-SI. Kaki sebelah kanan saya menderita lecet yang awalnya tidak terlalu memprihatinkan, akan tetapi setelah melalaui beberapa metamorphosis….kaki itupun mengalami luka yang cukup serius. Dari kepulangan rekan2 setim ke Padang, kaki saya pun mesti diperban agar tidak infeksi dan bertambah parah. Sampai kepulangan ke Padang kaki kanan tersebut masih diperban dan terus saya berikan perawatan.
Kaki yang diperban ini pun menjadi sesuatu hal yang sangat mengganggu dan memberikan efek lambat bagi saya melakukan aktifitas. Termasuk disaat saya mengendarai motor ke Kutai, Pijakan pada rem kaki yang menggunakan kaki bagian kanan bawah tidak begitu bisa saya lakukan, sehingga dalam perjalanan tersebut saya lebih mengandalkan rem tangan yang pakemnya sangat jauh dari harapan…..jadilah perjalanan dengan motor tersebut menjadi sedikit ekstreem.

Pukul 11.30 WITA siang kamipun sampai di Kutai dengan Dehidrasi yang menghajar kerongkongan, saya pun berinisiatif untuk melakukan ritual siang terlebih dahulu agar kondisi bisa kembali fit dan recharge . Setelah melakukan ritual di sebuah Rumah Makan Jawa, kamipun melanjutkan perjalanan mengitari sungai Mahakam yang terhampar luas di Kota Kutai, di sana juga terdapat sebuah Pulau yang bernama Pulau Kumala…Pulau ini merupakan salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi jika kita datang ke Kutai. Didalamnya terdapat arena bermain anak2 dan juga ada Menara pandang yang cukup unik. Berkebetulan disaat saya kesana, Pulau tersebut sedang tutup dan tidak dibuka untuk umum.


Perjalanan saya lanjutkan menuju Museum Mulawarman, yang merupakan museum yang berisikan peralatan,perlengkapan dan juga dokumen-dokumen mengenai kerajaan Kutai Kertanegara yang merupakan Kerajaan pertama di indonesia. Disamping museum juga terdapat kuburan raja-raja dan juga kerabat kerajaan yang tertata rapi dan terawat secara baik.

Dibagian samping komplek pemakaman terdapat beberapa toko souvenir yang menawarkan barang2 tradisional asal Kaltim dan juga berbagai macam oleh2 yang bisa diperoleh oleh pengunjung….saya berkesempatan membeli beberapa barang nggk penting sekedar buah tangan dan tanda bahwa saya pernah ke Kutai Kertanegara.

Setelah puas berjalan dan mengelilingi komplek museum saya pun bergerak keluar dan mengitari kawasan di belakang komplek museum. Ternyata ada satu lokasi yang terlewatkan saat saya di museum tadi, ternyata di bagian belakang museum terdapat Kedaton (mungkin yang dimaksud kedaton disini adalah istana raja….nggk tau juga sih apa arti sebenarnya). Dan didepan Kedaton tersebut juga terdapat sebuah Masjid yang cukup besar dan kayaknya Masjid tersebut merupakan Masjid Raya-nya Kutai.

Cukup lama saya berkelana di daerah Kutai Kertanegara, di saat pulang saya masih sempat mencoba menaiki jembatan Kutai Kertanegara yang desainnya futuristik seperti jembatan brooklyn-nya Amrik sana. Akan tetapi jembatannya terlalu sempit dan hanya bisa dilewati satu kendaraan dimasing2 jalur, sehingga nggk ada ruang untuk bisa turun di atas jembatan guna menikmati sungai mahakam dari atas jembatan tersebut….saya juga heran kok pemerintah bikinnya sempit gitu ya…., sama aja dengan jembatan di samarinda yang desainnya mirip tapi juga sempit.

Perjalanan dari Tenggarong ke Samarinda terasa lebih cepat, mungkin karena saya telah melewati daerah tersebut sehingga ada perasaan familiar dengan kondisi jalannya. Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti sebentar guna melihat beberapa daerah yang sedang dieksploitas kandungan batu baranya….Hal ini harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, karena di kiri kanan jalan saya sering melihat kubangan2 air seperti danau dadakan yang merupakan bekas tambang batu bara di biarkan begitu saya tanpa diperbaiki kembali ke bentuk semula….hal ini sangat mengganggu dan merusak kondisi alam yang ada di sana. Dengan penertiban yang tegas dari pemerintah, alam bisa terjaga lebih baik dan eksploitasi terhadap kekayaan alam bisa saling menguntungkan bagi pemerintah dan juga bagi alam itu sendiri.

Ada kejadian tambahan disaat saya telah selesai melihat2 kondisi tambang batu bara, saat melakukan kick starter pada motor…tanpa sengaja tumit kaki saya beradu keras dengan step bagian belakang motor sehingga tumit kaki saya tersebut mengalami pendarahan yang cukup serius dan kulitnya terkelupas. Ini merupakan peristiwa yang tidak saya duga sama sekali, awalnya telapak kaki kanan yang kena…sekarang bagian tumit….saya jadi bingung mo menginjakkan kaki sebelah kanan ini ke arah mana karena depan belakangnya sudah sakit dua2nya. Kejadian ini sengaja tidak saya ceritakan kepada Dirman (teman perjalanan saya), karena jika saya sampaikan Dirman secara otomatis akan menggantikan saya membawa motor…sedangkan dia takut karena nggk punya SIM. Akhirnya dibawah terik matahari, kepala yang sedikit pusing, darah yang terus mengucur dari tumit kaki, dan dehidrasi…saya memberanikan terus menggeos motor sampai ke Samarinda.

Islamic centre di Samarinda
Sesampai di Samarinda, barulah kondisi kaki saya ini diketahui oleh Dirman…untuk menutup sementara kucuran darah yang terus mengalir, Dirman membelikan Hansaplast dan juga sebotol minuman botol untuk sedikit menghilangkan dahaga.
Setelah mengembalikan motor ke rumah saudaranya, kamipun kembali melakukan perjalanan menuju Balik Papan. Sialnya lagi, baru berjalan sekitar 15 menit mobil bus yang kami tumpangi mengalami mogok di tengah jalan yang kebetulan saat itu sedang dalam kondisi ramai kendaraan sehingga macet panjangpun tidak terelakkan karena bus berhenti ditengah jalan. Setelah diperiksa oleh sang sopir, ternyata bola2 stir dan juga koplingnya tidak bisa jalan. Guna mengantisipasi kejadian tersebut, sopir bus memindahkan kami ke bus yang kebetulan melewati kami dan memiliki tujuan ke Banjarmasin.
Tepat pukul 19.30 WITA melalui perjalanan yang sangat melelahkan itu akhirnya kami sampai di Balikpapan Kota Beriman. Setelah menaiki angkot ke daerah Kampung baru guna menyeberang ke Penajam, kamipun mesti menunggu sekitar setengah jam-an menunggu speed yang akan bertolak ke Penajam. Karena kondisi waktu itu tidak memungkinkan lagi untuk menunggu speed, akhirnya kami putuskan untuk men-carter satu buah speed dengan biaya yang berbeda jauh jika kita naik dengan speed trayek.
Perjalanan hari itu sangat melelahkan bagi saya, akan tetapi banyak hal yang bisa saya dapatkan, selain bisa melihat daerah baru…beberapa pengalaman unik dan ekstreem yang saya rasakan memberikan arti lebih dari pada sebuah kegiatan rekreasi. Di saat kondisi badan tidak begitu stabil saya masih bisa menjajaki tiga daerah dalam satu hari Balikpapan-Samarinda dan juga Kutai Kertanegara.
Possibly Related Posts:
- Lembah Anai Mengamuk
- Puncak Langkisau - Painan
- Tour de Kaltim (Balikpapan-Penajam)
- Kaltim di Ginyang Mak Taci
- Jalan Tol PADANG-BUKITTINGGI (balada sebuah mangkok)
August 19 2009 04:43 pm | Dejavu Jalan-jalan











