Macet 1,5 jam di Jembatan Simpang Haru

Kemaren hari Senin tanggal 14 September 2009, Padang diguyur hujan yang sangat lebat mulai dari pagi sampai malam hari. Guyuran hujan yang sangat lebat dan panjang ini selain mendatangkan rezeki juga mendatangkan sedikit kesusahan bagi masyarakat. Banyak yang memiliki kendaraan roda dua urung melakukan aktifitas diluar karena udah kebayang akan basah kuyup.

Ceritanya berawal sekitar pukul 16.30 WIB ketika saya mau meninggalkan kantor untuk pulang kerumah, kebetulan kondisi badan saat itu emang lagi kurang enak. Untung saja saya dititipi mobil oleh my father untuk di bawa pulang, sehingga alhamdulillah kemungkinan saya akan basah kuyup tidak akan terjadi.

Setelah melihat kondisi hujan yang cukup ekstrim saya memutuskan mengambil jalur alternatif untuk pulang ke rumah. Biasanya saya mengambil jurusan Jati-Alai-Ampang, saya sengaja memindahkan jalurnya ke arah sawahan-simpang haru-lubuk lintah. Kesengajaan ini sangat beralasan, karena biasanya kalau hujannya udah kayak gitu sudah bisa dipastikan kawasan Alai menuju ampang akan mengalami banjir yang cukup dalam.

Perjalanan saya lalui ditemani alunan DVD di mobil, sehingga perjalanan yang dingin tersebut tidak terlalu terasa. Sesampainya di Lampu Merah Simpang haru, dari kejauahan saya melihat antrian kendaraan yang cukup panjang ke arah Andalas. Karena sudah tidak mungkin lagi untuk balik arah dan dengan pikiran posiutif kalau kondisi ini tidak akan memakan waktu lama, sayapunmemutuskan untuk ikutan dalam antrian macet tersebut.

Mobilpun bergeser 1 meter / 5 menit, saya heran….biasanya nggk separah itu. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di bibir jembatan Simpang Haru sekitar 45 menit. Biasanya daerah tersebut kalau sore selalu di atur oleh beberapa orang Polisi (di bibir dekat SD) dan juga beberapa orang anggota DLLAJ (di bibir jembatan arah ke andalas dan juga di persimpangan azizi).

Tapi hari itu sangat berbeda dari hari yang biasa, bisa jadi karena hujannya lebat seperti itu pak Polisi dan Pak DLLAJ takut masuk angin dan mengurungkan niatnya mengatur lalu lintas.  Akhirnya para pengendara harus saling mengerti dan menyelesaikan permasalahnnya sendiri-sendiri, untung saja tidak terjadi gesekan yang mengakibatkan perkelahian atau cekcok mulut.

“Sejuta Topan Badai untuk Polisi dan DLLAJ”

Untuk masuk ke bibir jembatan sangatlah sulit, hal ini diakibatkan oleh menyempitnya jalur yang dilewati diatas jembatan. Pengendara membuat dua jalur dari arah simpang haru dan dua jalur dari andalas, padahal jembatan hanya muat untuk satu jalur dari masing-masing arah.

Hal ini telah terpikirkan oleh Pemda Kota Padang dengan pembuatan jembatan baru di sebelah jembatan lama, akan tetapi jembatan ini akan sangat lama penyelesaiannya, untuk pembangunan tiangnya saja membutuhkan waktu berbulan-bulan, belum pembuatan batang jembatannya. Hal ini menjadi tanda tanya yang besar bagi seluruh masyarakat, karena jembatan tersebut sangatlah dibutuhkan, melihat kondisi ruas jalan tersebut yang selalu mengalami kemacetan baik di saat pagi maupun di saat sore hari.

Di persimpangan azizi kembali kesemrautan terlihat, mobil yang keluar dan masuk dari simpang azizi tersebut seperti mau memperlihatkan taringnya masing-masing, siapa yang berani mereka bisa masuk. Biasanya di lokasi ini ada sekitar 3 orang petugas DLLAJ yang mengaturnya sehingga jalanan bisa lebih lancar. Tapi saat itu ada seorang pemuda yang dengan sukarela membantu mengatur lalu lintas dengan hanya dibantu sebuah payung besar, dia mengatur mobil yang keluar masuk.

1,5 jam saya habiskan untuk melewati jembatan Simpang Haru tersebut, yang seharusnya cuman membutuhkan waktu setengah menit. Kemacetan yang panjang pun terlihat di depan mata, mulai dari jembatan sampai ke depan SMP 31 Anduring mobil berjalan seperti siput.

Membelok ke Anduring, saya sudah mempunyai firasat kalau di kawasan sarang gagak dan juga surau balai pasti sudah terjadi banjir. Betul saja, banjir yang sudah rutin dinikmati oleh penghuni rumah dan juga pengendara yang melewati jalur itu terlihat cukup besar. Banyak motor yang KO dan terpaksa di dorong oleh pemiliknya karena karburator kemasukan air, banyak rumah yang terciprat air dari kendaraan yang melacu.

Kondisi ini akan menjadi sebuah pemandangan yang bisa dilihat secara rutin, karena sampai saat ini belum ada tindakan konkrit untuk menyikapi permasalahan yang dialami oleh masyarakat ini.

Possibly Related Posts:


Sharing di Situs Jejaringmu:
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Twitthis
  • MySpace
  • RSS
  • Twitter

September 15 2009 01:14 pm | Dejavu Charity and Dejavu Kritis and Pemikiran Dejavu

Leave a Reply