Catatan Relawan Hari ke 12

12 hari pasca gempa yang melanda Sumatera Barat dengan kekuatan 7,9 SR yang telah meluluh lantakkan bangunan dan juga memakan korban kurang lebih 1.000-an jiwa telah memberikan kekuatan baru bagi masyarakat minang untuk kembali bangkit dan menata ulang kehidupan ke arah yang lebih baik.

Relawan-relawan asing mulai bergerak kembali ke negaranya, karena rata-rata mereka memiliki spesialisasi evakuasi korban, sedangkan relawan asing yang memiliki spesialisasi selain evakuasi/SAR masih akan bertahan dalam kurun waktu satu minggu kedepan.

Saat ini masih banyak relawan kita yang juga masih aktif secara langsung memberikan bantuan kepada korban bencana gempa tersebut, termasuk dari rekan-rekan perguruan tinggi seperti IAIN, UNP, UBH, Unand dan yang lainnya.

KSR IAIN Imam Bonjol Padang yang didirikan pada tahun 2001 juga telah mengirimkan relawannya untuk membantu korban di beberapa daerah. Khusus untuk daerah Pariaman, fokus kegiatan dilakukan di daerah Pakasai, Padusunan.

Hari ke 12 pasca gempa, saya dan beberapa orang rekan lainnya meluncur dari Padang menuju daerah Pakasai yang menjadi posko bagi rekan-rekan dari IAIN. Hal ini sengaja saya lakukan karena ada sedikit beban tanggungjawab terhadap keberadaan relawan di Pariaman tersebut.

Sekitar 13 orang relawan dari IAIN yang membuka posko di Padusunan tersebut merupakan hasil koordinasi saya dengan komandan KSR-nya. Sehingga ada sedikit beban jika saya tidak mengunjungi dan mambantu langsung kegiatan relawan disana.

Kegiatan yang dilakukan oleh relawan disana antara lain membuka posko kesehatan (yang bekerjasama dengan relawan dari Stikes Jambi), membuat dapur umum dan juga melakukan assesment yang juga dibantu oleh relawan dari Bengkulu.

Kekeluargaan menjadi sebuah ciri dari masyarakat minang, apalagi yang sedang mendapatkan kemalangan atau bencana. Hal nilah yang membuat rekan-rekan relawan tersebut bisa betah untuk membantu korban disana. Mereka merasakan diri mereka dibutuhkan oleh masyarakat, wali nagari-pun sering meminta pendapat dan juga arahan dari relawan mengenai bantuan yang datang ataupun menyelesaikan permasalahan di lapangan.

Pukul 19.00 WIB mobil truk bantuan dari Padang pun sampai di lokasi posko tersebut, bantuan ini sedikit terlambat dari jadwal yang telah di tetapkan. Seharusnya bantuan tersebut datang pada pukul 16.00 WIB dengan asumsi bahwa bantuan tersebut bisa langsung didistribusikan kepada masyarakat. Akan tetapi ada sedikit permasalahan dari sisi koordinasi yang mengakibatkan keterlambatan tersebut.

Dikarenakan saat itu sudah malam, maka diambil kata sepakat untuk menyimpan dulu bantuan yang datang tersebut di dalam rumah seorang warga. Dan bantuan tersebut akan di bagi ke pada warga pada esoknya.

Proses loading barang dari truk ke rumah memakan waktu sekitar 2 jam. Setelah proses pencatatn barang dan segala urusan lainnya yang berkaitan dengan penyerahan bantuan tersebut selesai. Kamipun yang berangkat dari Padang taddi dengan kekuatan personil sebanyak 4 orang dengan 2 unit motor mohon diri kepada wali nagari dan juga pemuda setempat, ucapan terimakasihpun terlontar dari beberapa orang bapak-bapak yang ada di situ.

Perjalanan menuju Padang terasa sangat lama, karena perasaan yang masih kuat untuk tetap tinggal dan bertahan di Posko bersama rekan-rekan lainnya di Pariaman membuat pikiran menerawang kemana-mana. Akan tetapi saya kembali dihadapkan kepada pilihan yang dilematis antara pekerjaan dan relawan……

Possibly Related Posts:


Sharing di Situs Jejaringmu:
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Twitthis
  • MySpace
  • RSS
  • Twitter

October 15 2009 10:49 am | Dejavu Charity

Leave a Reply