Catatan Relawan Hari Ke-6 s/d 10

Hari senin tanggal 5 Oktober 2009 merupakan hari yang dilematis bagi saya pribadi, ada dua kondisi yang menjadi beban pikiran bagi saya. Di satu sisi, saya masih ingin mengabdikan waktu dan moril saya untuk membantu korban pasca gempa, dilain sisi saya dihadapkan oleh instruksi keras dari “Sang Direktur” yang mewajibkan karyawannya masuk kantor pada hari senin tersebut tanpa terkecuali, jika ada yang tidak masuk akan diberikan sangsi yang keras.
Dengan berat hati, pagi iktu motor saya pacu menuju kantor yang terletak di Belakang Olo. Disana telah berkumpul karyawan/ti lainnya yang dengan antusias menceritakan keadaan ataupun kejadiaan di saat gempa meluluh lantakan ranah minang. Setelah do’a pagi, kamipun diharapkan bekerja/beraktifitas seperti biasa dan melakukan pekerjaan secara maksimal…Saya kebetulan bekerja sebagai salah seorang analis pembiayaan/kredit yang notabene pada saat itu kemungkinan nasabah yang akan mengajukan pembiayaan diprediksikan sedikit. Sehingga ruang waktu saya terbuang sia-sia karena tidak ada pekerjaan yang terlalu signifikan. Untuk menghilangkan kejenuhan, sayapun mengambil keputusan untuk keluar kantor guna melihat kondisi usaha nasabah yang terkena dampak langsung oleh gempa….hitung-hitung masih tetap bisa membentuk mengobati korban gempa (walaupun itu nasabah).
Jam kerjapun saya habiskan di Kantor dan sebagian lagi di lapangan. Setelah jam kerja habis, saya langsung bergabung kembali dengan relawan lainnya di markas cabang. Kejenuhan yang saya alami di kantor tadi sedikit terobati karena pada sore itu kami berkeliling menggunakan salah satu mobil ambulance untuk mendata korban-korban gempa yang ada di kawasan Pegambiran. Kegiatan pada hari itupun berakhir pada pukul 24.00 WIB, karena saya harus mempersiapkan diri untuk menghadapi rutinitas kantor besok hari.
Kegiatan seperti ini secara rutin saya lakukan, pukul 08.00 s/d 17.00 WIB saya beraktifitas seperti layaknya seorang pekerjaan kantoran, dan pukul 17.00 s/d pukul 24.00 WIB saya habiskan bersama rekan-rekan relawan lainnya di markas cabang Padang
Setiap hari saya ke kantor dalam kondisi dan tampang yang sedikit hancur-hancuran kayak kain yang belum di setrika, karena setiap pulang kantor saya selalu bergabung kembali dengan rekan-rekan relawan lainnya melakukan kegiatan yang masih tersisa pada malam hari.
Rutinitas pekerjaan yang belum begitu maksimal mengisi keseharian saya yang terkadang bimbang jika mendengar deru ambulance dan heli diluar sana. Satu minggu terasa sangat lama…Senin, selasa, rabu, kamis dan jum’at itu pun berakhir serasa 1 bulan dan keinginan untuk bisa kembali beraktifitas sebagai seorang relawan kembali muncul dengan kuatnya.
Possibly Related Posts:
- Opini Yang Berakhir Dengan Intimidasi
- SURAT DARI ODHA
- Indonesia Hari ini
- Mentawai After Tsunami
- Carut Marut Disaster Management Di Indonesia
October 14 2009 03:13 pm | Dejavu Charity

















