Catatan Relawan Hari Keempat
Hari keempat ini merupakan hari yang sedikit melelahkan bagi kawan-kawan yang stand by, dikarenakan kekuatan anggota yang tergolong minim. Pekerjaan berat yang ada di depan mata tidak diimbangi oleh kemampuan anggota yang ada saat itu, sehingga untuk beristirahat harus mencuri-curi waktu.
Banyaknya bantuan yang datang menambah beban pekerjaan itu pun bertambah, sedangkan lokasi evakuasipun bertambah di beberapa titik seperti di Quantum dan STBA Prayoga.
Pagi itu saya melapor ke markas daerah untuk melakukan koordinasi mengenai lokasi-lokasi yang akan di foukskan dalam pencarian korban. Saya pun mendapat tugas untuk mengantarkan alat komunikasi (HT) ke dua lokasi di Hotel Ambacang dan ke Adira untuk mempermudah rekan-rekan di lapangan untuk menyampaikan kebutuhannya. Pergerakan saya awali ke arah ADIRA karena lokasinya cukup dekat dengan Markas daerah, yaitu disekitar sawahan. Sesampai di ADIRA tanpa disengaja saya bertemu dengan salah seorang teman SMA dulu yang telah lama tidak bertemu, kabarnya sih beliau bekerja di daerah Kalimantan. Kekagetan ini bertambah disaat teman itu menyampaikan bahwa salah seorang kakaknya berada di dalam bangunan ADIRA yang sedang dilakukan proses evakuasi. Setelah mendengarkan ciri-ciri dan pakaian yang digunakan oleh kakaknya, saya pun mencoba masuk kelokasi evakuasi dan melihat kondisi korban yang akan di keluarkan tersebut. Korban dihimpit oleh semen penyangga dan tepat mengenai badan, setelah diperhatikan dari ciri-ciri pakaian yang dikenakan dan sepatu yang masih terpasang di kaki beliau, saya memastikan bahwa jasad tersebut benar kakak dari teman saya tadi.
Berita itupun saya sampaikan kepada teman tadi, dengan informasi bahwa yang sedang dilakukan evakuasi tersebut adalah kakanya, dan bersiap-siap saja menunggu korban di Rumah Sakit M. Djamil jika jasad telah dikeluarkan dari reruntuhan bangunan tersebut.
Setelah berkoordinasi dengan tim yang berada di ADIRA dan minta ijin kepada teman tadi, saya melanjutkan perjalanan ke Hotel Ambacang dimana beberapa orang rekan relawan lainnya telah bekerja disana sejak pagi hari. Setelah HT diberikan dan laporan bisa diterima di Posko induk, sayapun kembali ke ADIRA untuk sedikit memberikan kenyamanan bagi keluarga teman tadi.
Proses evakuasi yang dilakukan cukup beresiko, bangunan ADIRA tersebut sudah sangat labil dan dimungkinkan akan jatuh jika proses pengeboran salah sasaran. Selain itu posisi badan korban yang tertindih pondasi besar yang sangat susah untuk dihancurkan, jika salah….badan korban juga akan hancur.
Di saat evakuasi, kamipun mendapatkan bantuan dari rekan-rekan red cross Pekanbaru, sebanyak 4 orang bergabung dalam tim evakuasi saat itu. Setelah menunggu beberapa waktu, jasad pun bisa terlihat lebih jelas. Akan tetapi masih ada masalah, kepala korban masih terjepit di untaian besi bangunan tersebut. Evakuasi pun kembali terhenti menunggu tim basarnas memotong besi dan membersihkan beberapa besi lainnya di sekitar jasad korban dengan menggunakan mesin las. Setelah korban benar-benar bisa dikeluarkan dari jepitan tersebut, kamipun mulai bekerja untuk memasukkan korban ke dalam kantong mayat yang telah disiapkan. Evakuasi pun berjalan lancar, dan jasad korban langsung dilarikan ke RSUP M. Djamil bergabung dengan jasad korban lainnya dari beberapa lokasi di Kota Padang.
Setelah korban bisa di evakuasi, masih terdapat sekitar 4 orang korban lainnya yang masih tertimbun di reruntuhan tersebut. Saat itu alat berat kembali menjadi tumpuan harapan karena sulitnya evakuasi terhadap beberapa korban yang terhimpit di bawah bangunan. Dikarenakan ada kemungkinan proses penghancuran bangunan akan memakan waktu cukup lama, kami pun kembali ke posko utama untuk sedikit refresh tenaga dan mempersiapkan kegiatan di sektor lain.
Saya dan seorang rekan kembali berputar di beberapa lokasi melihat kemungkinan bantuan di beberapa tempat yang belum ada relawannya.
Sore itu saya mendengar panggilan dari seorang rekan yang berada di Quantum, beliau mengisyaratkan bahwa akan ada evakuasi terhadap satu orang korban, dan beliau membutuhkan beberapa tenaga relawan lainnya. Saya pun dengan segera bergerak ke lokasi tersebut untuk membantu proses evakuasi yang sedang berlangsung. Disana akhirnya berkumpul sekitar 5 orang relawan dan siap untuk masuk ke dalam bangunan yang telah di buka akses masuknya. Setalah mencari beberapa waktu, pencarian yang dilakukan menggunakan senter dan penciuman, karena dimungkinkan jasad korban telah mengeluarkan bau menyengat. Akan tetapi setelah selang beberapa menit pencarian dilakukan, kami tidak menemukan satu orang korban pun, bau yang keluar hilang timbul dibawa angin. Setelah berkoordinasi dengan TNI, Basarnas dan juga relawan dari RAPI kami sepakat untuk mengehentikan alat berat sambil menunggu informasi dari pemilik Quantum.
Hari itupun ditutup dengan istirahat sejenak di markas daerah.
Possibly Related Posts:
- Opini Yang Berakhir Dengan Intimidasi
- SURAT DARI ODHA
- Indonesia Hari ini
- Mentawai After Tsunami
- Carut Marut Disaster Management Di Indonesia
October 14 2009 08:20 am | Dejavu Charity

















