Catatan Relawan Hari Kelima

Hari kelima pasca gempa bertepatan dengan hari minggu tanggal 4 September 2009, dan hari itu merupakan hari yang rutinitasnya sedikit berbeda dengan hari sebelumnya.

Semua relawan yang telah bekerja untuk melakukan evakuasi di beberapa titik telah kembali berkumpul di Markas Daerah untuk melakukan kegiatan Assesment dan juga distribusi bantuan ke beberapa daerah, Daerah yang di assesment hari itu adalah Padang dan Pariaman. Selain itu ada juga yang disibukkan dengan program RFL (Restoring Family Link) atau mempertemukan keluarga yang terpisah, dan banyak lagi kegiatan yang membutuhkan cukup banyak relawan.

Kebetulan pagi itu saya datang ke markas daerah sedikit pagi, setelah sedikit diskusi dan berbagi cerita dengan relawan lain, saya ditemui seorang rekan relawan dari Cabang Padang. Beliau mengajak saya ikut dengannya karena mendapatkan tugas ke Pariaman untuk mencari dan mendata kebutuhan dari tim red cross dari Bogor yang bertugas di salah satu daerah di Kota Pariaman.  Kata sepakatpun saya sampaikan, karena sampai detik itu saya belum pernah menjajaki kaki saya di daerah Pariaman yang merupakan titik pusat Gempa, dan kesempatan itu bisa menjadi tambahan data yang bisa saya berikan kepada rekan-rekan dari luar daerah lain yang berkeinginan memberikan bantuan atau membuka posko kesehatan di Pariaman.

Setelah berkoordinasi dan mempersiapkan sedikit ransum untuk diberikan kepada relawan yang ada di Pariaman, kamipun bersiap-siap untuk bergerak.  Akan tetapi ada sedikit ganjalan dalam pikiran kami, mobil yang akan dipake adalah satu uit Avanza lengkap dengan supir, sedangkan relawan yang akan pergi hanya 3 orang. Rasanya sedikit mubazir kalau hanya kami yang mengisi mobil tersebut, makanya kami mencoba menawarkan kepada koordinator di Posko, jika ada relawan atau tamu yang bisa sekalian kami bawa ke Pariaman.

Gayung bersambut, koordinator pun menawarkan untuk membawa salah seorang anggota federasi IFRC untuk dibawa ke Pariaman untuk melakukan assesment. Timbul permasalahan baru, anggota federasi tersebut bukanlah orang Indonesia akan tetapi warga kebangsaan England. Kami pun mulai berpikir cepat apakah meng-iya-kan atau menolak tawaran tersebut, karena setelah bertanya ke rekan yang lain….ternyata tidak ada yang bisa melafazkan bahasa inggris secara aktif maupun pasif, dan sayapun hanya memiliki kemampuan pasif….Dengan sedikit berat hati tawaran itu pun kami terima, dengan asumsi bahwa sesampainya di Pariaman kami harus mencari dan mempertemukan orang federasi tersebut dengan relawan dari Pusat yang merupakan penghubung/guide dari orang-orang federasi yang datang ke Pariaman.

Perjalanan pun kami lakukan dengan hanya sedikit bicara dengan si bule,  akan tetapi kami sedikit beruntung karena si bule berasal dari Inggris, sehingga bahasanyapun bisa lebih jelas terdengar dan mudah dimengerti…berbeda dengan rekan-rekan relawan yang mendampingi orang-orang federasi lain, ada yang berkewarganegaraan Jepang, Korea, Turki dan lain-lain yang notabene memiliki logat dan aksen yang lebih sulit dimengerti pengucapan bahasa inggrisnya.

Perjalanan ke Pariaman kami tempuh selama lebih kurang 1,5 jam , biasanya waktu tempuh Padang Pariaman hanya sekitar 1 jam-an….keterlambatan ini diakibatkan oleh banyaknya pengungsi yang meminta sumbangan di jalan dan juga banyaknya mobil yang bersiliweran dari arah Padang ataupun dari Pariaman.

Mobilpun kami belokkan ke arah Padang Sago, karena dari beberapa informasi yang kami dapat…rekan-rekan dari Red cross Bogor berada di lokasi tersebut. Selama perjalanan, kami melihat cuup banyak rumah masyarakat yang rubuh dan hanya tinggal atap, si Bule pun sering minta berhenti dan mengabadikan beberapa rumah dan penghuninya sebagai bahan assesmentnya. Setelah cukup bertanya ke beberapa posko yang ada di sepanjang jalan, didapatkan hasil bahwa rekan-rekan dari Bogor tersebut tidak berada di kawasan tersebut. Kamipun bergerak kembali ke arah Kota, karena di Kantor Balaikota terdapat Posko Utama untuk kawasan Kota Pariaman.

Di Balaikota telah tersusun rapi beberapa rumah sakit lapangan yang dikelola oleh relawan dari Jepang, dan sederet tenda-tenda besar yang diisi oleh beberapa instansi seperti Dinas Kesehatan, RAPI, PMI, Dapur Umum dan lainnya.

Setelah sedikit berkoordinasi dengan koordinator di Posko PMI Pariaman, kami pun mendapatkan informasi bahwa rekan-rekan dari Bogor saat ini membuka klinik lapangan di daerah Kurai Taji Pariaman. Setelah sedikit negosiasi dengan Bule, bahwa kami akan melaksanakan tugas di Kurai Taji dan si Bule akan kami titipkan kepada koordinator Posko PMI Pariaman. Pada awalnya si Bule setuju untuk ditinggalkan disana, berhubung beliau akan berdiskusi dengan beberapa orang relawan evakuasi dari Swiss sekalian memperoleh data untuk pelaporannya dari Satkorlak. Setelah berpikir cukup lama Si Bule yang memiliki nama PATRICK tersebut menyatakan kalau beliau ingin ikut dengan kami untuk mendokumentasikan klinik lapangan yang telah dibuat oleh rekan-rekan Bogor. Dan berkebetulan guide dari Pusat yang sedang kami tunggu juga sedang dalam perjalanan ke Pariaman, sehingga kasihan juga meninggalkan si Patrick tersebut di sana.

Kami punkembali bergerak bersama ke arah Kurai Taji, sekitar 5 Km dari Kantor Balaikota Pariaman. Lokasi klinik lapangan yang dibuat oleh rekan-rekan dari red cross Bogor tersebut sangan mudah dijumpai dan berada di pinggir jalan. Dilokasi itu terdapat satu unit Mobil Ambulance dan juga berdiri sebuah tenda sterill sebagai tempat rawat inap bagi korban yang membutuhkan.

Si Patrick pun kami persilahkan untuk mendokumentasikan dan mengambil data-data kegiatan rekan-reakan dari Bogor tersebut. Dan berkebetulan sekali ada Pasien yang mengalami luka di Kepala yang akan ditanganni oleh Tim dari Bogor tersebut, si Patrick pun beraksi dengan kamera dan pulpen yang selalu dipegangnya. Setelah saya translet (bisanya cuma dikit-dikit aja..hehehehe…tapi lumayanlah, si Patrick bisa paham dan mengerti apa yang saya maksud) apa yang di tanyakan oleh Patrick kepada pasien, Patrick pun memohon kepada saya untuk diantarkan ke lokasi rumah si Pasien yang berada sekitar 1,5 km dari klinik tersebut. Karena berpikir medan yag akan ditempuh akan sedikit sulit, sayapun meminjam sebuah motor rekan yang ada disana untuk memobilisasi kami ke lokasi rumah.

Sesampai dirumah pasien tersebut, setelah sedikit berdialog dan mengambil dokumentasi photo…kamipun kembali ke klinik.

Setelah melakukan koordinasi dengan koordinator di Markas daerah via telepon, dan menyampaikan kebutuhan-kebutuhan yang diminta oleh tim dari Bogor. Kamipun kembali bergerak ke Balaikota Pariaman untuk mengantarkan Patrick bertemu dengan guide-nya. Sesampainya di Balaikota, guide tersebut tidak bisa kami temukan…si Patrick pun memberikan informasi bahwa dia harus kembali ke Padang untuk melakukan meeting dengan pentolan-pentolan di federasi pada pukul 5.00 WIB , sedangkan jam digital pada handphone saya menunjukkan angka 4.30 WIB sore .

Setelah mencari-cari dan menghubungi guide tersebut, beliau mengatakan kalau saat itu beliau sedang berada di lapangan dan belum ada kemungkinan untuk kembali ke Padang pada saat itu, dan meminta bantuan kami kembali untuk mengantarkan Patrick ke Padang.

Semua planing yang telah direncanakan pun buyar seketika, karena saat itu kami berencana untuk melakukan assesment di beberapa lokasi untuk memobilisasi rekan-rekan KSR di unit IAIN Imam Bonjol Padang untuk membuka Posko kesehatan dan dapur umum di beberapa lokasi di Pariaman dan sekitarnya.

dengan berat hatipun kami kembal bertolak kembali ke Padang, jam di handphone saya menunjukkan angka 4.45 WIB. Laju kendaraanpun dipacu oleh pak sopir untuk mencoba mengejar waktu agar si Patrick bisa mengahadiri rapat penting yang dilakukan di Markas Daerah.

Pukul 6.15 WIB kami kembali merapat ke Markas daerah, dan si Patrick pun mengucapkan terimakasih atas waktu yang telah kami berikan, dan dia meminta maap karena telah merusak planing yang telah kami siapkan pada hari itu.

Setelah menyampaikan laporan kepada Koordinator di daerah, saya pun bertolak ke markas cabang karena mendapatkan informasi bahwa ada beberapa rekan yang akan melakukan koordinasi. Di cabang telah berkumpul beberapa orang rekan-rekan relawan lainnya, dan di pojok belakang markas ada seorang bapak-bapak yang sedang meng-urut salah seorang rekan. Setelah sedikit berkoordinasi dan melepaskan kepenatan, kegiatan hari itu saya akhiri dengan ikutan di urut oleh sang bapak yang sengaja di order langsung oleh Ketua Cabang untuk merefresh tenaga dari relawan yang ada.

Possibly Related Posts:


Sharing di Situs Jejaringmu:
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Twitthis
  • MySpace
  • RSS
  • Twitter

October 14 2009 01:03 pm | Dejavu Charity

Leave a Reply