Catatan Saat Gempa

Mie ayam itupun dengan lahapnya saya nikmati dengan 3 orang rekan lainnya di ruang makan yang berada di lantai 3 gedung kantor yang terletak di Belakang Olo. Keinginan untuk makan mie ayam dan juga bakso tersebut telah lama kami rencanakan, sampai pada akhirnya hari itu kami bisa juga merealisasikannya. Sembari bersenda gurau, mie ayam dan bakso yang telah habis setengah piring tersebut terus kami lahap dengan nikmatnya.

Goyangan itupun terjadi, secara cepat gempa dahsayat tersebut mengeluarkan bunyi-bunyian dari  beberapa material bangunan di lantai 3 yang merupakan lantai tertinggi di kantor saya. 2 detik pertama kami masih duduk sambil menunggu kemungkinan gempa berhenti, akan tetapi gempa tersebut semakin kuat dan mulai memperlihatkan kedahsyatannya. Salah seorang rekan cewek yang berada di samping saya langsung bergerak ke arah tangga dan melesat lari kebawah, dengan segera saya mengikuti gerakan rekan tadi. Akan tetapi sesampai di bibir tangga, seorang rekan yang disaat itu sedang menuju ke lantai 3 untuk menikmati mie ayamnya yang masih terbungkus rapi menghadang kami, beliau hanya berucap ‘astaghfurullah dengan suara lantang dan berdiam diri di bibir tangga. Dinding di belakang kami pun runtuh kebangunan ruko sebelah, melihat tersebut dengan sigap saya genggam tangan rekan tadi saya tarik dengan keras menuruni tangga, satu ucapan yang masih saya ingat “beko astaghfirullah tu ni, lari awak lu“. Dengan sigap kami berlari dengan cepat menuju lantai bawah, proses lari pun banyak dihalangi oleh material-material dan peralatan kantor yang jatuh, selain itu goyangan gempa membuat lantai tidak stabil untuk diinjak sehingga laripun dalam keadaan sempoyongan.

Perjalanan menuju luar kantorpun sukses kami lakukan tanpa ada cedera yang berarti dari rekan-rekan. Setelah gempa reda dan seluruh orang mulai panik memikirkan keluarga dirumah dan juga masyarakat yang berlarian karena takut tsunami. Saya pun dengan keberanian yang agak sedikit ciut kembali ke lantai 2 untuk mengambil kunci motor dan handphone. Setelah berkemas sedikit, saya pun tancap gas ke rumah untuk melihat kondisi keluarga. Di sepanjang jalan kondisi memprihatinkan terpampang dihadapan mata, ada yang berlari panik hanya menggunakan pakaian seadanya, ada rumah yang terbakar tanpa ada yang memperdulikan, ada anak-anak menangis tanpa tau dimana orang tuanya, ada orang tua jompo yang di tarik paksa oleh cucunya untuk menghindari tsunami, dan banyak lagi kondisi kepanikan yang dipertontonkan saat itu. Waktu yang saya tempuh untuk sampai ke rumah sekitar 20 menit yang biasanya bisa ditempuh sekitar 10 menit, kebetulan jalur evakuasi tsunami melewati jalan menuju rumah.

Melihat banyaknya rumah dan bangunan yang roboh di samping kanan dan kiri jalanan, saya langsung berpikiran negatif terhadap kondisi rumah yang telah puluhan tahun saya huni, dengan rumah bertingkat 2 dan memiliki pondasi di tanah yang dulunya rawa, menimbulkan sedikit ke khawatiran di pikiran. Tapi alhamdulillah setelah sampai dirumah dan mengetahui kondisi keluarga yang selamat dan bisa menyelamatkan diri, dan juga rumah yang tidak begitu parah, perasaan itupun terobati.

Setelah seluruh keluarga yang menempati rumah telah berkumpul kembali, masih ada sedikit tugas yang harus saya lakukan, saya harus mencek rumah keluarga di Lapai, adik sepupu di Alai, kakak saya yang berada di  Tunggul hitam dan kakak ipar yang belum ketahuan gimana kabarnya (waktu itu beliau sedang mengajar di UNP). Dengan memakai pakaian lengkap Red Cross, saya berdua dengan adik mengambil keputusan untuk memindahkan adik sepupu yang rumahnya sedikit berdekatan dengan rumah kami, setelah selesai barulah perjalanan di arahkan ke Lapai UNP dan tunggul Hitam.

Alhamdulillah keluarga dan rumah di Lapai dan juga tunggul hitam dalam kondisi aman. Hanya kakak ipar yang berada di UNP yang tidak terdengar informasinya, setelah berputar-putar di UNP dan mencoba mengarahkan laju motor ke Pasar Raya dengan harapan bertemu kakak tersebut sedang berjalan, hasil yang didapat masih nihil.

Setelah sedikit berpikiran positif, mungkin kakak tersebut telah berhasil menyelamatkan diri ke tempat temannya, kami pun mengarahkan motor ke beberapa lokasi yang mengalami kerusakan gempa cukup dahsyat. Pasar Raya sandang pangan yang saya kunjungi tadi sore menjadi salah satu tujuan kami, karena asap hitam tebal yang membumbung tinggi terlihat sangat jelas dari kejauhan. Setelah mendekat, saya mencari informasi bagaimana kondisi korban yang ada di dalam bangunan tersebut. Ada seorang remaja yang bilang bahwa salah seorang kakaknya masih terjebak di dalam dan belum keluar. Jika saya mengingat kondisi disaat sore saya melakukan penagihan ke lokasi tersebut, sudah terbayang berapa banyak korban yang tertimbun dan masih terjebak di dalam bangunan tersebut.

Api pun telah membakar bangunan tersebut, panas yang di pancarkan membuat kami yang berada di lokasi tersebut terpaksa mundur dan menjaga jarak. Sekitar pukul 20.30 WIB pemadam kebakaran pun datang ke lokasi dan mencoba melakukan upaya pemadaman yang terkesan sia-sia, karena mobil pemadam yang turun waktu itu terlihat baru 1 unit mobil pemadam.

Sampai pukul 23.00 WIB saya mencoba berkoordinasi dengan salah seorang anggota SIBAT ( siaga bencana yang berbasis masyarakat) untuk mencoba menginformasikan hal tersebut dengan rekan-rekan red cross yang lain. Saya memutuskan untuk kembali ke rumah dan mencoba membuat tenda atau tempat peristirahatan sementara bagi keluarga saya. Malam itupun suasana malam sedikit mencekam dan ditemani suasana dingin dan hujan lebat. Saya sempat berpikir bagaimana nasib korban-korban yang masih terjebak di reruntuhan. Tapi itu hanya akan menjadi beban di pikiran karena tuntutan keluarga supaya saya tetap berada dan menjaga rumah lebih keras dari pada keinginan untuk kembali ke lokasi gempa. Setelah suasana rumah benar-benar hening dan seluruh keluarga terlihat telah tidur, sayapun meminta ijin ke orang tua untuk tetap keluar dan bergabung dengan rekan-rekan relawan lainnya.

Motor pun saya arahkan ke markas red cross Cabang Padang, akan tetapi markas tersebut dalam kondisi tertutup, hal ini dimungkinkan karena semua relawan dan penghuni markas sedang berkegiatan di lapangan. Motor pun saya arahkan ke RSUP M. Djamil, jam di HP saya menunjukkan angka 12.30 WIB dini hari. Setelah bertemu dan berkoordinasi dengan beberapa orang rekan yang sudah stand by di RSUP, saya pun stand by di RSUP membantu evakuasi korban dari atas ambulance ke dalam rumah sakit (hanya itu yang bisa dibantu, karena proses medis saat itu sangat-sangat sulit karena pasien harus di tangani di luar ruangan yang juga dalam kondisi gerimis).

Setelah mengambil kata sepakat, saya dan salah seorang rekan sepakat untuk berkeliling melihat lokasi mana yang bisa kami bantu. Motor pun berhenti di kawasan pertokoan di depan Taman Melati, tepatnya di tempat loundry SASEC, disana di sinyalir ada korban yang masih tertimbun reruntuhan. Proses evakuasipun di lakukan dengan menggunakan alat berat, proses ini di perlambat karena reruntuhan yang ambruk sangat susah di singkirkan. Melihat proses evakuasi yang mungkin akan memakan waktu cukup lama, saya pun kembali ke RSUP untuk membantu hal-hal yang bisa dilakukan disana. Jam digital di HP saya menunjukkan angka 04.00 WIB, seluruh badan sudah lelah dan letih, hal ini mendorong saya untuk kembali pulang kerumah guna beristirahat sejenak supaya paginya akan bisa lebih refresh lagi.

Ini merupakan sekelumit cerita dari ribuan cerita lainnya di bumi ranah minang, alhamdulillah saya dan keluarga tidak mendapatkan efek berat dari bencana ini, akan tetapi banyak sekali para korban dan keluarga korban yang air matanya sampai posting ini saya buat masih mengalir dengan deras. Masih banyak korban bencana yang tidur dan diterpa dinginnya malam, dan banyak lagi kondisi memprihatinkan lainnya.

Semoga bencana ini lebih mempererat tali persaudaraan dari sanak saudara di ranah minang, mari kita berangkulan tangan untuk menyelesaikan pesta bencana yang telah usai ini, ulurkan tangan dan rangkullah korban-korban yang masih terisolasi akibat ketidak berdayaan.

………………………………Jayalah kembali ranah minang……………………………….

Possibly Related Posts:


Sharing di Situs Jejaringmu:
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Twitthis
  • MySpace
  • RSS
  • Twitter

October 08 2009 11:18 am | Bebas and Dejavu Charity and Pemikiran Dejavu

Leave a Reply