Pangeran Antasari dan Tarian Dayak Memudar

Sungguh memprihatinkan, disaat nilai-nilai kebangsaan kita terusik oleh banyaknya klaim yang dilakukan oleh Pihak Malaysia. Kita sendiri telah mulai mengeyampingkan nasib tradisi dan juga pahlawan kita yang telah kita jadikan sebagai sebuah identitas pada  sebuah daerah di belahan bumi Indonesia ini. Banyak orang yang tidak mencintai warisan daerahnya sendiri, banyak orang yang dengan sengaja meremehkan hasil karya budaya bangsanya sendiri. Jangan pernah bilang negara kita ini terhormat jika kita sendiri tidak menghormatinya.

Ungkapan diatas patut disampaikan kepada generasi muda yang menjadi tumpuan harapan bangsa ini kedepan. Bagaimana Negara ini kedepan bisa kita lihat dari tindak tanduk yang tercermin dari perbuatan generasi mudanya. Banyaknya penderita HIV/AIDS yang di dominasi oleh kaum muda, tindakan kekerasan, tawuran antar mahasiswa/pelajar dan banyak hal lainnya yang secara kongkrit memperlihatkan ketidak beresan pemaknaan sebuah siklus globalisasi.

Hal diatas tidak ada kaitannya dengan judul dan isi dari tulisan saya yang sebenarnya, tapi minimal ada sedikit benang merah yang bisa menghubungkan antara ungkapan dan juga isi yang akan saya sampaikan.

Pangeran Antasari dan juga Tarian dayak merupakan dua buah simbol yang memperlihatkan identitas sebuah daerah. Kalimantan sangat identik dengan dua buah simbol ini, dan masyarakat Kalimantan sendiri secara tidak langsung menjunjung sosok dan juga tradisi tarian ini.

Nah ….yang menjadi permasalahan dari judul diatas adalah.

Tahun 2009 ini telah di sahkan pecahan mata uang baru dengan besaran Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah) yang menampilkan dua sosok tersebut. Di bagian depan terpampang wajah Pangeran Antasari dan Tarian Dayak berada di bagian belakangnya. Uang ini sengaja di launching di Kalimantan Timur sebagai sebuah pengukuhan identitas yang di usung oleh mata uang ini.

Sudah barang tentu Masyarakat di Kalimantan sangat menghargai dan menghormati kebijakan BI untuk memproduksi pecahan ini dengan mencantumkan simbol kebanggaan dari daerah mereka. Dan pecahan ini menjadi barang yang sangat-sangat dicari di saat lebaran kemarin, karena masyarakat sangat membutuhkan pecahan uang kecil untuk dijadikan ang-pau disaat lebaran.

Akan tetapi ada sedikit hal yang sedikit mengurangi keberadaan pecahan ini. Saya sangat menyayangkan kualitas dari material pembuatan uang kertas ini, karena saya secara kebetulan dan secara tidak sengaja menemukan pecahan uang kertas milik saya telah pudar dan tidak jelas. Setelah saya cari informasi, ternyata uang tersebut ikutan masuk dalam mesin cuci. Sehingga secara tidak langsung uang tersebut juga ikutan tercuci.

Hal ini sangat saya menyayangkan hal ini, uang kertas yang notabene masih baru dan masih panas from ovem…bisa pudar dengan mudah.

Kalau ada yang sering jalan-jalan ke Pasar-pasar tradisional khususnya di Pasar Ikan, bisa kita lihat nasib uang pecahan seribu rupiah yang sering di bikin jadi bola dan di lempar oleh pedagang ikan ke dalam baskom bekas ikan dan terkadang masih terisi oleh air.  Walaupun diperlakukan seperti itu, tapi secara nyata bisa kita lihat ketahanan dan juga kualitas material yang di benamkan dalam pecahan Rp. 1.000,- tersebut.

Pecahan Rp. 2.000,- sebagaimana terlihat di gambardi bawah merupakan hasil rendaman di dalam air selama kurang lebih 30 menit, sedangkan pecahan Rp. 1.000,- yang telah berkali-kali ikut berenang di dalam air masih bisa kita lihat stabil kondisinya….mungkin cuman lusuh saja.

Menyikapi kondisi ini, saya mencoba sedikit mengaitkan dengan rasa hormat dan juga rasa cinta terhadap tanah air ini. Jika pembuatan pecahan tersebut dilakukan dengan benar dan memperhitungkan segala aspek, maka kondisi uang yang masih gress di masyarakat ini bisa lebih tahan lama. Pembuatan pecahan tersebut yang juga secara konsep akan mengambarkan kecintaan kita terhadap pahlawan, jika pembuatannya dilakukan abal-abal maka secara tidak langsung kita juga tidak mencintai pahlawan yang terpampang di pecahan tersebut

Sehingga tidak salah kiranya judul diatas mencerminkan makna yang tersirat dalam tulisan saya ini. Jika bangsa ini tidak lagi menghormati jasa para pahlawan dan juga tradisi yang dimilikinya, maka kebesaran dan juga kedigdayaan Indonesia yang masih dalam tahap perkembangan ini akan tergerus oleh nilai-nilai globalisasi.

Possibly Related Posts:


Sharing di Situs Jejaringmu:
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Twitthis
  • MySpace
  • RSS
  • Twitter

December 08 2009 03:16 pm | Bebas and Kayak Berita di Koran and Pemikiran Dejavu

Leave a Reply