Kritik Terhadap Kegiatan Sosialisasi BI

Hari minggu kemaren tanggal 14 Februari 2010 Bank Indonesia yang bekerja sama dengan Asbisindo dan juga BMPD Sumatera Barat mengadakan perhelatan akbar perbankan syariah yang diadakan selama satu minggu. Kegiatan yang diangkatkan pun cukup beragam, mulai dari pelatihan perbankan syraiha kepada da’i, minang kuliner, bangker’s idol, lomba presenter, pusat jajanan lokal, pameran usaha mikro, pameran produk perbankan dan juga beberapa agenda kegiatan lainnya. Selain itu juga diadakan kegiatan launching produk nasional “TABUNGANKU” dan juga produk “PINJAMANKU”.

Pehelatan ini diadakan di Jalan veteran 65 yang berseberangan dengan rumah makan mama dan bersebelahan dengan Showroom Bajaj.

Konsep kegiatan ini adalah untuk membumikan perekonomian syariah di Sumatera Baratdan juga launching beberapa produk nasional, hal ini merupakan salah satu kegiatan yang sedang di gadang-gadang oleh BI cabang Padang. BI Cabang Padang yang digawangi oleh Romeo ini sangat concern dengan isu perbankan syariah. Disetiap penyampaian baik menjadi narasumber maupun di kegiatan-kegiatan lainnya, ada dua konsep dasar yang selalu ditonjolkan, Perbankan syariah dan UMKM. Dua hal ini menjadi sebuah keterkaitan yang cukup mendasar bagi kegiatan BI dalam memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Sumatera Barat.

Kegiatan yang diadakan selama satu minggu ini bukan hanya perhelatan Bank Indonesia, akan tetapi seluruh perbankan yang ada di Sumatera Barat. Hal ini terlihat dari keikut sertaan secara aktif dari personil dan staf masing-masing bank yang ikut dalam kepanitiaan. Mulai dari hari minggu sampai hari ini mereka sibuk mengelola kegiatan dengan serius, kegiatan kantor pun untuk sementara di nafikan untuk beberapa waktu ke depan. Inilah bentuk loyalitas yang diberikan oleh seluruh perbankan yang ada di Sumatera Barat.

Dari beberapa pengamatan di lapangan, terlihat ada beberapa plus minus dari perhelatan ini. Setelah melakukan beberapa diskusi baik dengan petugas bank yang berkegiatan disana dan juga beberapa orang masyarakat yang lalu lalang di lokasi tersebut di dapatkan beberapa rekomendasi yang bisa menjadi acuan untuk kegiatan seperti ini pada periode mendatang.

Lokasi, jika kita lihat dari posisi strategisnya, jalan veteran memang merupakan jalur padat yang menghubungkan pusat kota dengan beberapa daerah seperti raden saleh, air tawar, tabing, dan lain-lain. Akan tetapi jika dilihat dari tempat yang diambil yang berada di bekas reruntuhan bangunan (saya juga lupa bangunan apa yang berdiri diatasnya) yang saat ini telah kosong dan cukup lapang. Terlihat kondisi yang cukup memprihatinkan, hal ini sangat disayangkan oleh beberapa orang panitia dan juga para pengisi stand di tempat tersebut. Lokasi yang tidak begitu enak dipandang mata, sampah berserakan dimana-mana, tumpukan besi dan sampah disudut lapangan, lantai tanah yang di penuhi reruntuhanabata kecil-kecil dan banyak lagi hal yang kurang enak dipandang.

Kondisi lokasi yang gersang dan terik matahari dan cuaca yang beberapa kurun waktu terakhir ini memperlihatkan perubahan suhu yang tidak stabil, terkadang panas terik kemudian hujan lebat, membuat lokasi ini bertambah memprihatinkan.  Di saat panas, walaupun kita berteduh di bawah tenda-tenda yang disediakan kondisi suhu pun  tetap terasa panas dan menghasilkan keringat berlebih di badan (bahasa jermannya - bakuah-kuah badan dek nyo). Apagi kalau hujan lebat turun, sudah terbayang cipratan air ke tanah akan menghasilkan cipratan lumpur dan juga suasana becek dimana-mana.

Stand pun berada di tempat-tempat terpisah, Lokasi utama yang berada di Tanah lapang diisi oleh sebuah pentas besar tempat penyelenggaraan segala aktifitas yang berbau hiburan, kemudian di pinggiran diisi oleh beberapa pedagang kaki lima dan juga stand operator celullar. Stand Perbankan berada di sebelah kanan lapangan yang memakai ruko “Laris Manis” yang menjual spring bed dan gorden, stand ini cukup unik, didepan dijejal beberapa meja untuk stand perbankan kemudian dibelakangnya ada beberapa meja yang diisi oleh Lintas Arta, UPI-YPTK, dan juga Arbes…..Nah, uniknya,dibelakangnya lagi masih terdapat Spring Bed dan juga gorden yang masih terpajang  siap untuk di lego kepada konsumen. Kondisi stand disini juga cukup memprihatinkan, walaupun berada di Ruko yang notabene aman dari terpaan cuaca, akan tetapi lokasi ini tidak pernah dilirik oleh pengunjung karena lokasinya terkondisi tidak baik karena terdapat parkir mobil dan motor di depan ruko tersebut sehingga akses masyarakat yang mau berkunjung terganggu. Dan dari pembiacaraan yang dilakukan dengan para penghuni dan penunggu stand disana, mereka sangat menyayangkan penempatan lokasi stand tersebut, “alhamdulillah dari pagi sampai malam hari tidak ada masyarakat yang mengunjungi stand kami, yang kesasarpun nggk ada”

Dari beberapa diskusi yang dilakukan dengan beberapa pengunjung disana, mereka mempertanyakan kenapa kegiatan tersebut diadakan di lokasi tersebut “apa nggak ada lokasi lain”. Mereka malah menunjuk beberapa tempat yang seharusnya bisa menjadi alternatif lokasi kegiatan ini, “kenapa tidak di GOR Agus Salim”, GOR Agus Salim merupakan salah satu lokasi yang cukup strategis dan ramai dikunjungi oleh masyarakat kota Padang apalagi pada hari sabtu dan minggu. Kemudian ada juga yang nyeletuk, “kenapa nggak di Imam Bonjol saja” dan banyak lagi usulan-usulan lokasi yang secara konsep sangat bagus untuk mengadakan perhelatan sekaliber ini. “Masa’ iya…bankir-bankir disuruh ngumpul dilokasi seperti ini, kantor mereka saja dimodalin untuk memberikan kenyamanan bagi nasabah, kenapa diacara yang ngumpulin semua bank kondisinya seperti ini…..aneh”.

Possibly Related Posts:


Sharing di Situs Jejaringmu:
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Twitthis
  • MySpace
  • RSS
  • Twitter

February 17 2010 03:52 pm | Dejavu Kritis and Dejavu Ngomong Keuangan Syariah

Leave a Reply