Sebuah Katarsis Kehidupan

Barusan saya mencoba diskusi dengan salah seorang mahasiswi jurusan psikologi, kami mencoba saling menilai karakter masing-masing. Saya menggunakan analisa lapangan sedangkan si mahasiswi menggunakan analisa secara teori yang pernah didapatkannya di perkuliahan.

Dari hasil penilaian , terdapat kesamaan sekitar 85% atas karakter si mahasiswi yang bisa saya tebak secara benar. Sedangkan si mahasiswi hanya berhasil secara angka-angka sekitar 50% nya. Saya memaklumi kondisi ini, karena si mahasiswi masih dalam proses perkuliahan dan belum begitu banyak praktek yang bisa dijalankannya. Sedangkan saya yang secara literatur tidak pernah mengenyam teknik menilai karakter seseorang sedikit banyaknya sering menilai karakter para mitra yang akan bekerjasama dengan perusahaan saya. Sehingga secara tidak langsung kita bisa menilai bahwa seseorang yang memiliki teori yang bagus jika tidak menerapkannya secara baik dan kontinyu mereka tidak bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Atau bisa dibilang, jika memiliki jam terbang yang cukup tinggi maka ilmu-ilmu tersebut secara pasti akan berkembang seiring perjalanan praktek lapangan yang mereka lakukan.

Sebenarnya cerita yang sebenarnya bukanlah mahasiswi vs petugas lapangan, akan tetapi ada beberapa ilmu teori yang secara tidak sengaja saya dapatkan dari si mahasiswi tersebut. Katarsis….! itulah salah satu kosa kata yang cukup menarik dari penyampaian si mahasiswi tersebut.

Dari beberapa cerita yang saya sampaikan kepada si mahasiswi, beliau akhirnya mengambil kesimpulan bahwa saya berada pada stage katarsis, atau yang lebih mudah dipahami sebagai sebuah pelampiasan terhadap sebuah kondisi yang dialami.

Kebetulan saya merupakan orang yang secara karekter memiliki perbedaan yang cukup mendasar, disaat saya bekerja orang akan mengenal saya sebagai figur yang tidak terlalu keras dan bisa menahan emosi (hal ini seiring dengan kedewasaan dalam menyikapi kondisi dunia kerja….saya pikir semua orang akan mengalami fase ini), dan disaat saya berada di luar ruang lingkup pekerjaan maka saya juga akan memiliki karakter yang sangat jauh dari yang biasa dilihat orang disaat saya di kantor.

Saya memiliki kesibukan sendiri pada beberapa kegiatan-kegiatan sosial, saya aktif di beberapa LSM seperti HIV/AIDS, Anak Jalanan dan lain sebagainya, selain itu saya juga aktif di kepalangmerahan….dan masih banyak lagi kegiatan ekstra yang saya lakukan.

Si mahasiswi menganggap bahwa kegiatan yang saya lakoni diluar pekjerjaan merupakan sebuah fase katarsis yang mengarah kepada hal yang positif. Karena rutinitas pekerjaan dan juga tekanan emosional yang saya alami maka saya melampiaskannya dengan bergelut dengan aktifitas sosial.

Hal pertama yang terpikirkan oleh saya adalah, ada benarnya dan ada juga salahnya apa yang di analisa oleh si mahasiswi. Kegiatan sosial tersebut telah saya lakukan sebelum saya bekerja atau semenjak saya menginjakkan kaki di bangku perkuliahan dan bukanlah sebagai sebuah alternatif mencari kegiatan diluar kesibukan, ini yang saya anggap sebagai sebuah analisa yang sedikit salah. Analisa yang benar adalah, katarsis ini sedikit banyaknya telah terjadi pada fase kehidupan saya saat ini…..hal ini bisa dilihat dari bertambah banyaknya volume kegiatan sosial yang saya lakukan dan saya anggap sebagai sebuah pelampiasan dari ketidaknyamanan saya berinteraksi pada dunia kerja yang saya jalani saat ini. Rutinitas sosial itu sengaja saya tambah supaya tingkat emosi dan jiwa pemberontak saya pada dunia kerja bisa saya redam dengan mendedikasikan diri saya untuk membantu orang lain diruang lingkup sosial yang berbeda. Katarsis positif yang terjadi pada diri saya memang membuahkan hasil, saya secara tempramen dan karakter merupakan seseorang yang memiliki jiwa pemberontak dan tidak bisa melihat orang-orang di bunuh karakternya (dalam dunia kerja) secara spontan saya akan beradu argumen dengan siapa saja, baik dengan sesama karyawan maupun dengan top pimpinan. Ini sering terjadi dan menjadi sebuah preseden buruk bagi performance saya dalam dunia kerja, akan tetapi seiring waktu berjalan kondisi ini pun bisa saya minimalisir dengan kondisi diatas. Walaupun secara emosional hal ini menjadi beban pemikiran yang jika dibiarkan bisa merusak kestabilan emosional sehari-hari saya.

Setelah melihat beberapa literatur yang ada, saya akhirnya menemukan beberapa referensi mengenai pengertian dari katarsis ini.

Katarsis atau katharsis, dari bahasa Yunani pertama kali diungkapkan oleh para filsuf Yunani, yang merujuk pada upaya “pembersihan” atau “penyucian” diri, pembaruan rohani dan pelepasan diri dari ketegangan. Istilah ini digunakan antara lain oleh:

  1. Penyucian” yang dihasilkan pada para pemirsa dalam sebuah pentasan sandiwara, menurut Aristoteles
  2. metode psikologi (psikoterapi) yang menghilangkan beban mental seseorang dengan menghilangkan ingatan traumatisnya dengan membiarkannya menceritakan semuanya (JS Badudu, hlm 175).
  3. Dalam agama Kristen pembaharuan mental yang dicapai dalam penyucian diri.
  4. Kelegaan jiwa, ketika seorang penulis berhasil merapungkan tulisannya (Wibisono, hlm 204).

Dari sedikit diskusi singkat yang saya lakukan dengan si mahasiswi, saya mendapatkan sebuah ilmu baru dan juga istilah baru untuk menafsirkan kondisi yang dialami seorang individu dalam melampiaskan emosinya.

Dan saya menilai bahwa setiap orang akan memiliki kondisi sendiri-sendiri dalam mengalihkan emosinya, ada yang akan menghasilkan tindakan positif dan ada juga yang akan negatif, tergantung bagaimana karakter dari masing-masing individu tersebut.

Silahkan ceritakan bagaimana kondisi katarsis ini terjadi pada diri anda….

Possibly Related Posts:


Sharing di Situs Jejaringmu:
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Twitthis
  • MySpace
  • RSS
  • Twitter

March 03 2010 08:39 am | Pemikiran Dejavu

One Response to “Sebuah Katarsis Kehidupan”

  1. dejavu Says:

    testing

Leave a Reply