Munculnya opini ini berasal dari pemikiran saya sebagai seorang muslim yang memahami islam dalam koridor yang lebih rasional. Memang benar, dalam Al-Qur’an diajarkan bahwa seorang muslim itu harus masuk ke dalam islam secara kaffah atau menyeluruh, akan tetapi kita harus memposisikan diri sebagai makhluk yang hidup di zaman ini dengan konsep ibadah yang tetap berkiblat kepada Al-Quran dan Hadits.

Masalah ibadah merupakan hubungan vertikal antara kita dengan Allah SWT sedangkan masalah muamalah merupakan hubungan horizontal antara kita dengan makhluk lain di muka bumi ini. Dan kita hidup bukan dinegara yang menganut pemerintahan yang berbasis islam sehingga kehidupan muamalah pun seharusnya memiliki konteks yang akan sedikit berbeda dengan aplikasi yang terjadi di zaman Rasulullah SAW dulu.

Saya membaca artikel web yang di share oleh beberapa kawan2 di Facebook, tulisan itu berjudul “Calon Suami Seorang Pegawai Bank” yang berasal dari “konsultasisyariah.com“. Saya tidak akan membahas satu persatu kata-kata yang dimunculkan di dalam artikel tersebut, tapi ada beberapa point penting yang memperlihatkan sifat tendensius dan doktrin ajaran yang saya rasa sedikit bernuansa pemaksaan.

Pertama, Pegawai Bank adalah Pemakan Riba…….

Dalam tulisannya….Bisa dikatakan 99% gaji pegawai bank adalah riba dan toleransi 1% yang berasal dari administrasi yang dianggap sedikit halal.

Saya bukan seorang da’i atau ustadz yang memahami alqur’an dan hadits secara menyeluruh, akan tetapi jika statement dari sebuah situs yang mengatasnamakan konsultasi syariah (islam) seperti ini, bagi saya ini akan memberikan efek tidak baik bagi pemahaman islam itu sendiri.

MUI memang sudah mengeluarkan Fatwa nya No. 01 tahun 2004 tentang Bunga (Interest) yang menyatakan bahwa bunga yang diterapkan pada Bank merupakan tambahan dan masuk kategori riba, dan riba adalah haram. Konsep dharurat/hajat hanya berlaku pada wilayah/daerah yang belum memiliki kantor/jaringan lembaga keuangan syariah, sehingga jika diwilayahnya sudah terdapat Bank Syariah maka haram hukumnya bertransaksi di Bank konvensional (pemahaman).

Fatwa itupun menjadi polemik pada berbagai lapisan, NU menganggap ini menjadi sebuah khilafiyah karena masih terdapat perbedaan pendapat dari ulama, dan Muhammadiyah pada 3 April 2010 mengeluarkan Fatwa tentang haramnya bunga Bank, dan dilanjutkan dengan surat dari PP Muhammadiyah ke PW untuk menjadikan Bank Syariah yang berada di wilayahnya menjadi tempat mentransasksikan keuangan.

Saya rasa polemik masalah bunga bank riba atau tidak, belum akan memiliki titik temu. Pendapat saya pribadi….”Jika Bank Syariah di Indonesia sudah menerapkan konsep Syariah secara Khaffah” , maka saya adalah orang terdepan yang akan menyatakan bahwa bank konvensional adalah haram. Bukan hanya itu “Selama fundamental Indonesia masih dikelola oleh sistem konvensional” saya belum bisa menyatakan bahwa Bank konvensional itu  haram.

Bayangkan saja, jika semua orang berpikiran sempit sesuai tulisannya KS (baca : konsultasisyariah.com) tersebut, bayangkan apa yang terjadi di kalangan masyarakat. Semua orang tua akan menyuruh anaknya berhenti menjadi pegawai Bank, semua istri atau suami akan meminta pasangannya berhenti menjadi pegawai Bank, semua anak-anak akan merengek agar orang tuanya berhenti bekerja sebagai pegawai bank karena mereka tidak mau ikut memakan harta riba.

Di Web KS tersebut juga ada salah seorang pegawai Bank Indonesia/Bank Sentral yang bertanya apakah dia bekerja secara halal..? jawaban yang dikemukakan oleh KS adalah “Bekerja di bank sentral atau lainnya sama saja yaitu andil dalam praktik riba minimal bisa disamakan dengan saksi atau juru tulis praktik riba, Saya sarankan untuk segera memohon petunjuk kepada Allah agar bisa segera mendapatkan pekerjaan lain yang nyata-nyata halal”………..wah..wah… pemahaman saya bertambah sempit mengenai konsep syariah yang digunakan oleh KS ini dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh para pembacanya.

Astaghfirullah…ini tanda-tanda orang yang tidak bisa hidup zaman yang modern seperti saat ini,

Jawaban2 yang dikemukakan oleh Ustadz Ammi Nur Baits/dewan pembina KS mencerminkan pemahaman syariah yang hanya berorientasi kepada akhirat saja, padahal dalam islam kita tidak boleh hanya memikirkan akhirat tapi duniapun harus dijaga asalkan jangan berlebihan.

Pertanyaan saya untuk Ustadz  Ammi Nur Baits “Pekerjaan apa di Indonesia ini yang tidak bersentuhan dengan Riba”….PNS, Pegawai swasta, medis, teknik dan segala pekerjaan lainnya bergesekan dengan Riba, karena instrumen yang di gunakan masih berbau konvensional dan terkadang berbau korupsi di beberapa pekerjaan dan sudah bisa dipastikan akan bersentuhan dengan praktik riba.

Domain yang dipakai web nya KS dibelinya dimana…? saya pikir yang punya web tersebut menjalankan usahanya bersentuhan dengan Riba….nah…., Laptop yang digunakan belinya dimana, apakah tidak membantu praktek riba  jika kita bertransaksi dengan produk yang dimiki oleh perusahaan yang menjalankan riba dalam usahanya.

Kedua, pegawai bank adalah orang fasik

Pengertian dari fasik yang saya sadur dari Wikipedia adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasulnya.

Jangan pernah menjadikan diri kita sebagai orang yang bisa memberikan penilaian terhadap profil keislaman orang lain. Yang akan menilai orang tersebut fasik atau tidak adalah Allah SWT, yang akan menilai kaidah keislaman makhluk dimuka bumi ini adalah Allah, jangan pernah berperan sebagai hakim syariah dengan men judge orang lain fasik karena pekerjaannya. Semua manusis pasti memiliki peranan masing2 dalam berjihad , jangan pernah menyepelekan apa yang dilakukan orang lain jika kita tidak memahami atau berada pada posisi tersebut.

Yang lebih parah lagi ada pertanyaan dari pembaca, yang mennanyakan bagaimana hukumnya meminjam di Bank  karena kepepet, dan dari salah satu paragraf jawaban yang saya sadur disini adalah “Dengan demikian, bank sejatinya bukan solusi bagi masalah keuangan masyarakat. Justru bank adalah penyakit bagi masyarakat. Apapun nama dan labelnya. Baik konvensional maupun syariah – sebagaimana pengakuan mereka yang pernah terjun di bank syariah –.”

Di salah satu komentar Facebook teman saya tersebut, ada yang menyampaikan kegundahannya dan bertanya… “apakah kita harus memilih bekerja di Bank Syariah supaya terhindar dari riba dan fasik yang dimaksud oleh KS”. dari jawaban diatas…komentar dan pertanyaan teman tersebut sudah terjawab, KS pun sudah menganggap bank syariah menjadi penyakit bagi masyarakat……Mudah2 an semua ummat islam diberikan limpahan rezeki yang sangat banyak agar tidak pernah dihadapi kebutuhan akan pinjaman di Bank…..amin

huffftttt……Jangan pernah berharap kita bisa kembali hidup di zaman Rasulullah yang tidak ada bank, tidak ada jalan raya, tidak ada laptop, tidak ada website, tidak ada bank, tidak ada PNS, yang ada hanya baitul mall, transportasi hanya dengan berjalan kaki dan naik unta, dakwah dilakukan hanya dari rumah ke rumah dan tempat ibadah, menulis hanya diatas daun lontar, menggosok gigi dengan siwak dan lainnya.

Jangan berpikir sesempit itu dalam berdakwah, berpikirlah bagaimana cara berdakwah sesuai dengan kebutuhan hidup ummat hari ini.

Intinya , saya berharap ustadz/da’i menyampaikan ajaran islam kepada masyarakat mengedepankan teknik2 mengayomi dan memberikan pencerahan melalui cara yang lebih menyejukkan.

Mudah2an ada admin KS yang membaca tulisan saya ini, karena di web nya pembaca tidak diberikan tempat untuk memberikan feedback terhadap artikel ataupun opini yang mereka sampaiakan (kolom  komentar dihilangkan), ini salah satu bentuk komunikasi yang tidak baik.

Saya mohon maaf jika ada penyampaian yang terlalu ekstrim, ini hanya pendapat pribadi yang mengganggu otak saya dalam memikirkan ajaran islam yang baik dan benar, dan berharap islam menjadi agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Possibly Related Posts:


Be Sociable, Share!
  1. antoni yenas says:

    Islam itu ilmiah pak, selalu berdalil dgn al quran hadits dan fatwa para ahli ilmu/ulama. Sedangkan tulisan bapak tidak satupun dalil yg menyokongnya hanya perasaan saja. Mana dalil bahwa hidup harus imbang dunia akhirat ? Sdgkan byk ayat alquran yg lebih mendahulukan akhirat yg kekal dibanding dunia yg sebentar spt al qashas : 77. Kl membahas hukum saja harus tahu ilmu hukum dan perundang undangan, apatah lagi ilmu agama ?

  2. lutfi says:

    setuju dengan pendapat penulis diatas..
    yg dikatakan riba adalah mendapatkan keuntungan yang berlipat dr transaksi jual beli..
    smoga umat Islam dalam membaca Al Quran tidak sekedar membaca melainkan mengartikannya jg dalam bahasa yang dimengerti.

  3. julianto says:

    memahami islam tidak hanya menggunakan logika tapi juga harus menggunakan keimanan. karena logika kita sangat terbatas. Dan benar salah tentang suatu perkara bukan karena keumuman / kebanyakan tapi berdasarkan dalil yang shahih. dan sangat tidak bijak membicarakan hukum agama hanya menggunakan logika.. sehebat apakah logika (otak) kita ? maaf kalo ada yang tidak berkenan.. contoh : iblis juga menggunakan logika (tidak patuh), saat diperintah utk sujud ke nabi Adam dengan alasan iblis terbuat dari api sedangkan Adam dari tanah.. iblis tidak melihat perintah Allooh dengan keimanan..

  4. antoni yenas says:

    Kl logika antum kedepankan kenapa nabi membasuh bagian atas khufnya saat berwudhu bukan bawahnya yg kotor ? Masalah teknologi ya ndak ada masalah, lha wong nabi aja ketika ditanya tentang penanaman kurma beliau bilang kalian yg lebih tahu urusan dunia kalian. Bantah membantah adl hal biasa dlm agama ilmiah spt islam. Tp tentu diskusi harus dibangun diatas laidah dan fondasi yg sama. Ndak mgk dong ahli hukum dibantah pakai akal 2 an ahli ekonomi dibidang hukum, ya jelas nggak nyambung krn si ahli ekonomi ndak mempelajari kaidsh dasar pendalilan dlm ilmu hukum
    Spt itu juga ilmu agama ketika berdalil dgn ayat dan hadis bantahan pun haruslah dgn ayat dan hadis pula disertai pemahaman kaidah pendalilan sbgmn tertuang dlm ilmu ushul fiqh, musthalah haditd, ilmu tafsir dan berbagai ilmu lainnya.

  5. dejavu says:

    Ini yang saya maksudkan…saya bukanlah seorang yang bisa memberikan jawaban dengan dalil al qur’an dan hadits akan tetapi apa yang saya keluarkan merupakan pendekatan yang saya pahami.
    Saya hanya takut…dengan tulisan KS tersebut…org muslim yg bekerja di bank syariah maupun bank konvensional berbondong2 keluar (resign), dan pada akhirnya fundamental keuangan di negara ini dikuasai non muslim..dan…bla..bla..bla…akibat yang terjadi

    Bagi yang bisa memberilan dalil sesuai dengan pemikiran yang saya sampaikan diatas dipersilahkan,pendekatan saya hanya berupa logika (yg menurut saya tdk ada yg menyalahi kaidah agama), karena saya paling takut memperdebatkan dgn memakai ayat dan hadits,saya bukan ahlinya…tapi spirit yang saya ingin bangun adalah…jangan berdakwah hanya sekedar mendeskriditkan sesuatu tanpa memberikan solusi,takutnya akan memberikan dampak tdk baik bagi pemahaman islam….

  6. antoni yenas says:

    Sekedar nasehat buat diri sendiri dan saudara seiman, firman Allah Taala dalam Surah Al Isra:36 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Isra:36)” dan firman-Nya dalam An Nahl ayat 43 “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. Sudah sepatutnya bagi kita untuk diam (tawaqquf) terhadap hal-hal yang kita tidak berpengetahuan terhadapnya. Serahkanlah urusan kepada ahlinya sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (BUKHARI – 6015). Demikian saja mohon maaf sebelumnya, tidak ada maksud menggurui ataupun mengajak berdebat. Semoga Allah beri petunjuk dan hidayah-Nya kepada kita semua, Amin.

  7. dejavu says:

    Semoga kita semua bisa terkauh dari sifat menggurui dan pemaksaan pendapat bagi yang lain.
    Saya mengakui, bahwa saya bukanlah yang ahli dalam persoalan agama, makanya saya mohon bantuan kepada ahlinya untuk mencarikan solusi untuk menjawab tulisan yang disampaikan KS tersebut.
    Jika ada saudara seiman yang ahli dan bisa memberikan dalil yang tepat untuk solusi yang tepat bagi para pegawai bank supaya bisa tetap mengabdikan diri dalam pekerjaannya tanpa bersentuhan dengan riba, ataupun untuk seluruh pekerjaan yang ada di negara ini agar tidak bersentuhan dengan RIBA (karena bagi saya, seluruh pekerjaan di negara ini akan bersentuhan dengan RIBA jika dikaitkan dengan artikel KS yang dikeluarkan oleh ahli agama).

    Dan yang saya lihat, banyak ahli agama berdakwah dengan mengeluarkan ayat dan hadits tanpa memberikan solusi kongkrit untuk penyelesaiannya.

    Kalau solusinya pegawai bank harus resign…..setau saya tidak banyak orang yang bisa memberdayakan diri setelah keluar dari pekerjaan mereka sebelumnya, walaupun di beberapa situs diberikan profil-profil pengusaha sukses yang keluar dari bank dan mengabdikan diri dalam jalur perdagangan (itukan hanya segelintir saja, dan korodiornya memotivasi, tapi apakah ada situs yang mengeluarkan tulisan tentang kegagalan org bank yang resign dalam menghadapi peran barunya…tentu tiidak ada).

    Sekali lagi, saya bukan ahlinya, saya mengeluarkan opini ini untuk memberikan wacana diskusi bagi para ahli dalam memikirkan ummat agar tidak mudharat dalam menjalankan kehidupannya, dan bisa memberikan manfaat lebih bagi muslim lainnya.

    Silahkan bagi yang ahli untuk berpendapat.

  8. maulana says:

    Menjawab solusi jika pegawai bank keluar, saya rasa lebih baik keluar dari pekerja seperti bank, kenapa :
    keluar sedikit dari tema di atas, kerja dgn gaji besar, tp pekerjaan monoton banget, masuk pagi kluar sore bahkan tgh mlam.
    mainset pemikiran kita hanya berputar2 ke duit masuk dan kluar.
    stress krn mslh target pekerjaan. hingga manipulasi target2 yg tidak tercapai tiap akhir tahun dgn cara2 yg sy lihat aneh2.
    apalagi khusus untuk bank konvensional yang besar2, kelihatannya aja gede, coba aja 50% dari seluruh nasabahnya ngambil tabungan di bank, ato hanya 10 orang pemilik tabungan tertinggi menarik dananya di bank tersebut, walau banknya sdh sebesar BCA ato mandiri, sy jamin, bisa bankrut tuh bank…. paling ujung2nya minta BI minjamin dana triliyunan untuk menyehatnya kembali. ya seperti itulah negara dengan konsep RIBA nya.

    Jgn pernah takut bagi pegawai bank untuk keluar dr pekerjaannya.
    Pegawai bank adalah Pemilik SDM yg lumayan bagus. Ulet, teliti, menarik, Pintar dsb.
    jika mereka bekerja di luar bank, baik menjadi perkerja maupun berwirausaha, kemunkinan suksesnya lebih besar.
    tp terkadang, karena sdh di beri gaji dan fasilitas yg enak, mainset pemikiran nya jadi keenakan dan susah mau keluar.. males untuk berjuang…

  9. Harry says:

    Satu aja pertanyaannya. Jika seluruh umat Islam di seluruh dunia ini keluar dari perbankan, coba pikirkan dampaknya (perekonomian umat islam dan muslimin yang tertekan akibat perekonomian yang dikelola oleh non-muslim), dan apa SOLUSINYA. Jangan hanya bisa bilang HARAM dan HARAM, tetapi tidak bisa memberikan masukan. Saya tidak menampik dengan dalil-dalil yang dibeberkan, karena SESUNGGUHNYA RIBA ITU MEMANG HARAM DAN DIHARAMKAN. Tetapi kita memiliki pilihan ke Bank Syariah.

    “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) , sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 275)

    Kalian tau dengan perbudakan? Kenapa perbudakan diperbolehkan untuk dilakukan pada zaman Rasulullah SAW? karena jika dihilangkan, maka akan menghancurkan sendi-sendi perekonomian di seluruh dunia pada waktu itu. Begitu juga saat ini (silahkan dipahami sendiri).

    Masukan dari saya yaitu MENSYARIAHKAN SELURUH PERBANKAN YANG ADA DI DUNIA INI (Negara Muslim, serta menjalankan prinsip syariah dengan sebenar-benarnya) DAN MENGHILANGKAN CARA KONVENSIONAL. Terus siapa yang punya kuasa untuk merubahnya? Ya PEMERINTAH NEGARA MASING-MASING.

    Silahkan MASUKAN dan OPINInya.

  10. Roby says:

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh,,,

    saudaraku seiman sekedar menasehati diri sendiri khususnya, dengan membaca tulisan diatas serta komentar yang ada rasanya semua sepakat Riba itu haram sesuai dengan hadist dari jabir bin abdillah Ra bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang memakan riba, nasabah riba, juru tulis dan dua saksi transaksi riba. Nabi bersabda, “Mereka itu sama.” (HR. Muslim 4177) sehingga darisini semua sepakat bahwasanya Bank sudah jelas Riba dan Haram hukumnya, lalu muncul pertanyaan bagaimana solusinya bagi yang hidup di zaman yang MODERN ini,,,

    untuk menjawab itu izinkan saya bercerita background saya, saya pegawai Bank Konvensional sudah menjadi pegawai bank semenjak tahun 2004 dan saat ini menjabat sebagai kepala cabang semenjak tahun 2008, saya yang memang dhaif dan kurang memahami agama langsung terenyuh ketika membaca artikel KS tentang Riba, mulai dari saat itu saya berdoa memohon kepada Allah selamatkan saya dan keluarga saya dari Riba, Harta haram dan api neraka maka kemudian saya datangi ulama serta kyai yang terkenal wara dan keilmuanya semua menyatakan sama persis seperti artikel yg ditulis KS dan semua menyarankan hal yang sama, karena untuk hukum2 dalam islam semua sudahjelas hitam dan putihnya apalagi untuk perkara riba ini, namun kemudian karena saya tidak memiliki kemampuan dan keyakinan yang kurang terhadap Allah yang maha pemberi rizkiakhirnya tetap saya jaankan menjadi pegawai dengan pemikiran berat untuk ke 3 anak saya dan istri saya nantinya, segala fasilitas kemungkinan besar akan hilang dan segala ketakutan yang ada di benak saya, namun kemudian yg saya lakukan terus berdoa diberikan harta yang halal dan hati yang ikhlas serta hidayah buat saya dan keluarga serta surganya Allah, terus dan terus berdoa dan perbaiki amalan baik yang wajib dan jalankan yang sunnah sehingga kejadianya baru seminggu kemarin tepatnya hari selasa tgl 20 Oktober 2015 Allah kabulkan permintaan saya, istri mendapatkan kekuatan iman perkara riba ini, intinya kami kemudian mengetahui bahwasanya iman ini tidak bisa pake logika, maka yang digunakan adalah sikap samina waathona saya dengar saya patuh.
    Allah kasih kepahaman kepad saya dan istri bahwasanya Allah zaman para sahabat dulu Allah zaman modern sekarang dan bahkan Allah zaman kedepanya tetap sama tidak berubah, tuntunan islam al quran dan hadist serta sunnah nabi tetap sama tidak ada yang berubah, yang berubah hanyalah kesombongan kita menyatakan ini zaman modern dan harus menggunakan logika padaha dari zaman dulu di tempat itulah kerjanya setan, berada difikiran qta berupaya mengganggu keimanan kita, bahaya jika kemudian Logika yang kita kedepankan, sampai hari saya komen ini saya masih pegawai Bank, insya Allah awal bulan November saya resign tanpa memiliki usaha dan pegangan secara dzohir manusia, saya mencoba tidak menggunakan akal logika saya melainkan samina wathona saya dengar saya patuh, seperti zaman para sahabat dulu ketika itu Khamr sebelum di haramkan merupakan bidang usaha mayoritas para sahabat pada masa itu, mereka menjual khamr hingga ekspor dan itu menjadi mata pencaharian serta barang yang sangat digemari pada masanya, tetapi ketika perintah Allah turun bahwasanya Khamr Haram maka semua sahabat tidak ada yang bertanya kepada Rosulullah SAW lantas apa solusinya?? ini usaha kami saat ini dan kami tidak memiliki kemampuan dibidang lain selain membuat dan menjaual Khamr dan kami sangat menyukai benda ini? ternyata tidak ada sahabat satupun yang mengajukan pertanyaan itu yang mereka lakukan adalah menumpahkan seluruh khamr kejalan2 sehingga pada saat itu seluruh tanah madinah dan mekah banjir khamr dan mereka berjanji akan meninggalkanya.
    dari cerita di atas jelas sekali terlihat iman ini harus mengedepankan sikap samina waathona, jadi memang benar solusi yg pertama kali dilakukan dalah resign, ini solusi dari Allah dan yang halal itu jauh lebih banyak dari yang Riba saat ini maka Allah tidak merincinya, alhasil saya dan istri putuskan untuk resign dan kedepanya saya serahkan kepada ALlah yang memiliki dunia yang sementara ini dan akhirat yang abadi, jika kemudian datang penawaran kepada kita mau ga tidur di hotel yang super mewah dengan segala fasilitasnya yang super lengkap selama seminggu atau rumah biasa kecil dan jauh dari mewah tapi selama lamanya buat anda rasanya semua pasti sepakat akan memilih rumah yang jauh dari kata mewah tapi selama lamanya dibanding hotel mewah namun hanya punya waktu seminggu, maka Nabi perna bersabda siapakah orang yang cerdas itu, dialah yang sering mengingat mati dan yang yang paling baik persiapanya, maka insya Allah ga lama lagi qta tinggalkan dunia yang sementara ini menuju akhirat yang abadi entah hari ini, mungkin besok, mungkin lusa, mungkin besonya lagi wallahualam apa yg sudah qta persiapkan? memahami agama tidak harus dengan logika kita yang terbatas, karena kita ini orang buta ga tau jalan ke surga, sedangkan Nabi Muhammad SAW yang sudah paham bagaimana caranya menuju surga qta tinggal mengikuti saja ga perlu menambahkan sebisa mungkin jangan mengurangi cukup mengikuti saja wallahualam…
    banyak maaf tidak ada niat lain selain menguatkan serta menasihati diri sendiri yang sbntar lagi resign.

  11. adit says:

    saya baca koment bapak d atas ini sungguh terenyuh, hati saya bergetar..seorang kepala cabang yg dgn segudang fasilitas dan gaji yg cukup, tp krn dasar keimanan yg kuat beliau hanya berpegang pada prinsip samikna waatokna,
    perkenalkan saya sudah bekerja 4 tahun d lembaga keuangan non bank sebagai deepcolect/ lebih tepatnya karyawan bank keliling, setiap pagi melangkah ke kantor hati dan pikiran saya selalu diliputi perasaan takut, sungguh kerjaan dgn gaji tak seberapa ini telah menjerat ku kelembah kenistaan, ingin rasanya q terlepas dari ini smua saat ini juga, ya Allah yg maha agung, pengatur segala urusan di dunia ini, hamba berserah diri pada Mu ya rabb… hati hamba menangiss…istri dan anak yg baru 4 bln lebih sdkit sudah saya nafkahi.dgn uang riba, bgaimana kelak q memprtanggungkan ini smua d akhirat.. kpd saudara muslim ku smua, tlg saya barangkali bs memberikan saya saran/ sedikit saja bantuan..saya bner2 pgn terlepas dr ini smua…tlg berikan jalan kluar, 085229088898

  12. adit says:

    untuk jawaban penulisnya, mohon maaf sebelumnya..
    islam sudah sangat jelas memberikan jawaban n solusi yg anda risaukan,
    yaitu jual beli (dagang) sebagai muamalah yg d ridhai dr pada riba.
    tentu saja anda pst risau kalau harus keluar dr kerjaan yg telah memberikan pendapatan tetap n banyak (mungkin).
    jikalau harus konyol keluar dr karyawan dan memilih dagang yg belum tentu rugi labanya.
    disini anda terkesan menyalahkan orang(pendapat) yg mau memberikan anda kebenaran.
    anda menuntut kpd ulama utk memberi solusi sbg ganti klo harus kluar krj di bank.
    selama anda msh punya logika yg spt itu,akan sangat sulit bg anda menerima kebenaran.
    maaf beribu maaf,saya sndr msh bagian dr pemakan riba, tp saya tdk akan menuntut para ulama yg menganjurkan saya keluar dr kerjaan ini supaya diberikan solusi.cz itu sama aja ga mau nerima kebenaran.:
    yg saya yakini adalah keimanan bukan logika.

  13. Harry says:

    Assalamualaikum Wr Wb.
    Sdrku Bp Roby, berikut saya kutip pernyataannya
    “seperti zaman para sahabat dulu ketika itu Khamr sebelum di haramkan merupakan bidang usaha mayoritas para sahabat pada masa itu, mereka menjual khamr hingga ekspor dan itu menjadi mata pencaharian serta barang yang sangat digemari pada masanya, tetapi ketika perintah Allah turun bahwasanya Khamr Haram maka semua sahabat tidak ada yang bertanya kepada Rosulullah SAW lantas apa solusinya?? ini usaha kami saat ini dan kami tidak memiliki kemampuan dibidang lain selain membuat dan menjaual Khamr dan kami sangat menyukai benda ini? ternyata tidak ada sahabat satupun yang mengajukan pertanyaan itu yang mereka lakukan adalah menumpahkan seluruh khamr kejalan2 sehingga pada saat itu seluruh tanah madinah dan mekah banjir khamr dan mereka berjanji akan meninggalkanya”

    dari pernyataan di atas, apabila penjualan khamar (pada saat ini) benar-benar dihilangkan/dimusnahkan di seluruh dunia, ini tidaklah akan mengguncang sendi-sendi perekonomian. Nah, jika perbankan dihilangkan, sudah jelas perekonomian dunia akan terguncang. Itu letak perbedaannya (sebagaimana perbudakan pada zaman Rasulullah SAW dahulu).

    Bank Konvensional memang pemakan dan pemberi Riba (kelebihan) yaitu Nasi’ah dan Fadhl (silahkan di googling untuk pengertiannya). Semoga saya dijauhkan dari Prinsip Perbankan Konvensional.

    Lain hal dengan Bank Syariah (sesuai dengan Fatwa MUI Nomor 1 Tahun 2004), Perbankan Syariah menjalankan Muamalah berdasarkan Prinsip-Prinsip Syariah yang didampingi dan diawasi oleh ulama melalui DPS (Dewan Pengawas Syariah). Mari kita lebih memahami Perbankan Syariah, apa saja produk nya?

    Yaitu (berdasarkan akad awal) Murabahah (Jual-Beli) yang berdasarkan Margin, Mudharabah / Musyarakah (Bagi Hasil) yang berdasarkan Nisbah, Ijarah (Sewa) yang berdasarkan Kesepakatan, dll, yang semuanya itu telah di fatwakan sebelumnya oleh MUI melalui DPS (silahkan di googling untuk mencari buktinya).

    Saya Mohon maaf sebesar-besarnya untuk komentar saya ini. Bukannya saya mau menyalahkan saudara, tetapi kita diberikan akal (afala ta’qilun?) untuk berfikir. Semoga Allah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus. Amin..

  14. Ryan Isra says:

    *****************
    Saya bukan seorang da’i atau ustadz yang memahami alqur’an dan hadits secara menyeluruh, akan tetapi jika statement dari sebuah situs yang mengatasnamakan konsultasi syariah (islam) seperti ini, bagi saya ini akan memberikan efek tidak baik bagi pemahaman islam itu sendiri.

    *****************

    Dari pernyataan mas ini sendiri, jelas titik terangnya, yakni mas tidak memahami konteks masalah secara Islam, lalu kenapa memaksa bicara?

    Sedangkan situs konsultasisyariah.com mengacu kepada Al-Qur’an dan Hadits, ada pembinanya, dijawab oleh asaatidzah, semua berbasiskan ilmu syariah yang memang mereka kuasai sehingga pertanggung jawaban mereka ada, yakni berdasarkan ilmu yakin, bukan syak duga prasangka belaka,

    Lha mas kok masih maksa? Hehe… sudah lah daripada sibuk membela ego & hawa nafsu mari perdalam ilmu kita, jangan dahulukan silat lidah padahal satu bab permasalahan saja kita belum paham hakikatnya, sebelum akhirnya iblis membisikan jerat talbisnya, “sudah lah jangan saling menyalahkan”, padahal hakikatnya saling menasihati dengan pondasi ilmu.

    Sekian.
    Yahdakallah

  15. dika says:

    Akan tiba suatu zaman dimana kebanyakan orang memakan riba dan yang tidak akan terkena debunya. justru disinilah keimanan seorang muslim diuji krn sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah sebentar saja

  16. Gigih says:

    Perkenalkan
    Saya sudah bekerja di lembaga keuangan 10 tahun.posisi,materi sudah saya dapatkan.saat masuk kerja,saya memang tdk pernah tahu,riba atay tidak.yang saya tahu justru saya pengen kerja saja disini padahal awal dulu kantor ini masih sepi.kemudian seiring waktu berjalan,kantor kami berkembang sangat pesat.nah..mulai saya sekarang merasakan bahwa bahagia itu tidak harus uang banyak.pemberi bahagia,sedih,takut dll adalah Allah..untuk itu,saya sudah bulatkan tekad untuk keluar..dan isnya allah segala fasilitas kerja dan kenikmatan dunia yg saya miliki sekarang,saya siap lepaskan.mobil saya 4. Baru semua.mobil di kantor ada puluhan,dan saya bebas pakai yang mana saja dengan sopir siapa saja.uang makan bensin sudah terjamin semua.kalau ke luar kota,hotel sudah disiapkan selalu oleh staf staf saya disana.namun..semakin begini semakin saya sadari,bahwa sesuai Al Quran, semua itu riba.buat apa saya takut tinggalkan dunia semua sementara takut dengan Allah adalah yang lebih diutamakan.saya sudah mulai bersikap keras dengan pimpinan,karena kalau tdk sejalan dg nurani saya,yaitu berpihak kepada sejahtera semua orang bukan segelintir orang saja,saya pasti berontak.karena saya tidak takut dikeluarkan,saya hanya takut pada kemarahan Allah.mari kita beristigfar..mohon ampunan pada Allah,semoga segera diberi hidayah solusi untuk semua ini…amiin

  17. Yudi says:

    Yang kerja di bank memang slalu byk alasan untuk menyangkal klo riba itu tergantung kondisi, tahukah.. gaji kalian selain dari transaksi adalah dri orang2 yg meminjam uang seperti kpr dll?dan yg meminjam itu dikenakan bunga yg bgtu besar serta denda bunga jika telat, nah disitulah ribanya.

[+] kaskus emoticons nartzco