Archive for the 'Dejavu Charity' Category

Catatan Relawan Hari Kelima

October 14th, 2009 -- Posted in Dejavu Charity | No Comments »

Hari kelima pasca gempa bertepatan dengan hari minggu tanggal 4 September 2009, dan hari itu merupakan hari yang rutinitasnya sedikit berbeda dengan hari sebelumnya.

Semua relawan yang telah bekerja untuk melakukan evakuasi di beberapa titik telah kembali berkumpul di Markas Daerah untuk melakukan kegiatan Assesment dan juga distribusi bantuan ke beberapa daerah, Daerah yang di assesment hari itu adalah Padang dan Pariaman. Selain itu ada juga yang disibukkan dengan program RFL (Restoring Family Link) atau mempertemukan keluarga yang terpisah, dan banyak lagi kegiatan yang membutuhkan cukup banyak relawan.

Baca kelanjutannya…(dejavu)

Possibly Related Posts:


Catatan Relawan Hari Keempat

October 14th, 2009 -- Posted in Dejavu Charity | No Comments »

Hari keempat ini merupakan hari yang sedikit melelahkan bagi kawan-kawan yang stand by, dikarenakan kekuatan anggota yang tergolong minim. Pekerjaan berat yang ada di depan mata tidak diimbangi oleh kemampuan anggota yang ada saat itu, sehingga untuk beristirahat harus mencuri-curi waktu.

Baca kelanjutannya….(dejavu)

Possibly Related Posts:


Catatan Relawan Hari Ketiga

October 13th, 2009 -- Posted in Dejavu Charity | 1 Comment »

Hari ketiga pasca gempa yang bertepatan dengan hari jumat itu dilalui rasa mencekam oleh masyarakat kota Padang. Bantuan yang belum kunjung mereka terima dan masih banyaknya korban bencana yang terperangkap oleh reruntuhan bangunan masih menyisakan kepedihan dan kesedihan yang mendalam bagi keluarga korban. Hari itu saya berinisiatif untuk bergabung dengan rekan-rekan Red cross yang berada di Hotel Ambacang, karena pada hari itu hotel ambacang akan dibantu oleh kedatangan alat berat dari Semen Padang.

Baca Kelanjutannya….(dejavu)

Possibly Related Posts:


Catatan Relawan Hari Kedua

October 9th, 2009 -- Posted in Dejavu Charity | 2 Comments »

Pagi itu kamis tanggal 1 Oktober 2009, saya terbangun dari tidur yang sangat tidak nyenyak karena masih memendam perasaan was-was akan terjadinya gempa susulan yang lebih besar. Setelah sedikit berberes untuk membantu orang tua yang masih panik, saya minta izin untuk bergabung dengan rekan-rekan dari red cross di Markas Daerah Sumbar.

Sesampai di markas daerah, rekan-rekan yang lain telah berkumpul dengan pakaian lengkap siap untuk diterjunkan ke beberapa titik. Setelah sedikit berkoordinasi mengenai lokasi-lokasi evakuasi yang akan dilakukan, saya pun langsung naik ke motor dan memacu kendaraan ke daerah tersebut. Gama yang merupakan tempat bimbingan belajar menjadi fokus saya hari itu, disana telah berkumpul sekitar 4 orang tim awal dari markas daerah. Proses evakuasi di Gama mengalami hambatan karena reruntuhan bangunan bertingkat tersebut benar-benar menutupi akses masuk ke ruangan yang ada di dalam lokasi bimbel tersebut. Untuk memanfaatkan waktu yang masih ada, saya pun mencoba berkeliling di kawasan pondok dan sekitarnya mencoba melihat kondisi-kondisi kemungkinan adanya korban yang masih selamat di bawah reruntuhan, sayapun tancap gas dengan motor kuning yang selalu setia menemani. Kodisi bangunan yang terlihat di sepanjang jalan banyak yang hancur, hal ini memicu perhatian dari banyaknya masyarakat yang mulai berlalu lalang di kawasan tersebut.

Baca kelanjutannya….(dejavu)

Possibly Related Posts:


Catatan Saat Gempa

October 8th, 2009 -- Posted in Bebas, Dejavu Charity, Pemikiran Dejavu | No Comments »

Mie ayam itupun dengan lahapnya saya nikmati dengan 3 orang rekan lainnya di ruang makan yang berada di lantai 3 gedung kantor yang terletak di Belakang Olo. Keinginan untuk makan mie ayam dan juga bakso tersebut telah lama kami rencanakan, sampai pada akhirnya hari itu kami bisa juga merealisasikannya. Sembari bersenda gurau, mie ayam dan bakso yang telah habis setengah piring tersebut terus kami lahap dengan nikmatnya.

Goyangan itupun terjadi, secara cepat gempa dahsayat tersebut mengeluarkan bunyi-bunyian dari  beberapa material bangunan di lantai 3 yang merupakan lantai tertinggi di kantor saya. 2 detik pertama kami masih duduk sambil menunggu kemungkinan gempa berhenti, akan tetapi gempa tersebut semakin kuat dan mulai memperlihatkan kedahsyatannya. Salah seorang rekan cewek yang berada di samping saya langsung bergerak ke arah tangga dan melesat lari kebawah, dengan segera saya mengikuti gerakan rekan tadi. Akan tetapi sesampai di bibir tangga, seorang rekan yang disaat itu sedang menuju ke lantai 3 untuk menikmati mie ayamnya yang masih terbungkus rapi menghadang kami, beliau hanya berucap ‘astaghfurullah dengan suara lantang dan berdiam diri di bibir tangga. Dinding di belakang kami pun runtuh kebangunan ruko sebelah, melihat tersebut dengan sigap saya genggam tangan rekan tadi saya tarik dengan keras menuruni tangga, satu ucapan yang masih saya ingat “beko astaghfirullah tu ni, lari awak lu“. Dengan sigap kami berlari dengan cepat menuju lantai bawah, proses lari pun banyak dihalangi oleh material-material dan peralatan kantor yang jatuh, selain itu goyangan gempa membuat lantai tidak stabil untuk diinjak sehingga laripun dalam keadaan sempoyongan.

Baca kelanjutannya…(dejavu)

Possibly Related Posts:


« Prev - Next »