Archive for the 'Dejavu Ngomong HIV/AIDS' Category
May 10th, 2010 -- Posted in Bebas, Dejavu Ngomong HIV/AIDS, Kayak Berita di Koran |
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring merasa prihatin dengan semakin maraknya peredaran pornografi di kalangan remaja dan anak-anak. Bahkan, Komisi Perlindungan Anak (KPA) mengungkapkan 97 persen remaja pernah menonton atau mengakses pornografi. Pula didapatkan, sebanyak 62,7 persen remaja pernah melakukan hubungan badan atau dalam istilah remaja ML (making love).
“Survei KPA yang dilakukan terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar seluruh Indonesia juga menemukan 93 persen remaja pernah berciuman, dan 62,7 persen pernah berhubungan badan, dan 21 persen remaja telah melakukan oborsi,” ujar Tifatul dalam siaran persnya di Jakarta, Minggu (9/5/2010).
“Ini sangat memprihatinkan, saya minta semua pihak ikut mendukung upaya pembatasan distribusi konten negatif, baik melalui internet, maupun dunia perfilman. Semuanya harus terlibat menjaga generasi muda kita,” ujar Tifatul.
Menkominfo juga menyatakan, pertarungan antar nilai-nilai budaya, pengaruh asing, setiap hari terus berlangsung, sehingga bangsa ini harus menjaga kekokohan nilai-nilai karakter bangsa. Jika tidak, maka Indonesia akan kehilangan identitas sebagai bangsa besar.
“Penyebaran konten negatif tersebut banyak disalurkan melalui sarana IT, terutama konten asing yang dijual kepada kita, bahkan konten tersebut banyak yang merusak nilai-nilai budaya bangsa,” ujarnya.
Possibly Related Posts:
December 1st, 2009 -- Posted in Dejavu Ngomong HIV/AIDS |
Tema
Tema peringatan Hari AIDS Sedunia Tahun 2009 telah ditetapkan secara internasional yaitu Universal Acces & Human Right. Untuk Indonesia, tema tersebut diterjemahkan menjadi Akses Universal dan Hak Asasi Manusia.
Makna dari tema peringatan adalah bahwa setiap masyarakat khususnya mereka yang memerlukan, mampu memperoleh akses terhadap informasi, pencegahan, dukungan dan pengobatan. Kesehatan pada dasarnya merupakan hak asasi manusia yang utama (health is the first human right), dengan demikian setiap orang termasuk orang yang terinfeksi layak hidup sehat dan memperoleh fasilitas kesehatan. Dengan meningkatnya akses pelayanan dan pengobatan yang baik diharapkan akan dapat menurunkan resiko penularan dan mengurangi laju epidemi HIV di Indonesia.
Baca Kelanjutannya…(dejavu)
Possibly Related Posts:
December 1st, 2009 -- Posted in Dejavu Ngomong HIV/AIDS |

Saya dan 5 orang rekan yang berbeda profesi dan aktifitas, pada tahun 2004 mencoba mencetuskan pendirian sebuah kelompok untuk memfasilitasi kawan-kawan yang menderita HIV/AIDS khususnya di Sumatera Barat. Pertemuanpun sengaja dilakukan di lokasi-lokasi yang memang sering dikunjungi oleh kawan-kawan yang memiliki faktor resiko, mulai dari pertemuan di Bawah Jembatan Siti Nurbaya, Di Halte Pos, Di Jln. Diponegoro, Di Gor Agussalim dan juga beberapa lokasi lainnya.
Organisasi ini kami berinama “Lantera MinangKabau”, makna yang terkandung didalamnya adalah cahaya baru yang akan memberikan suasana terang bagi kawan-kawan yang positif terinfeksi HIV/AIDS. Oraganisasi ini memiliki pasang surut operasional, sama seperti organisasi-organisasi LSM lainnya. Keterbatasan Dana, keterbatasan SDM dan juga keterbatasan akses menjadi beberapa hal yang menghiasi perjalanan panjang organisasi ini.
Baca kelanjutannya…(dejavu)
Possibly Related Posts:
September 14th, 2009 -- Posted in Dejavu Ngomong HIV/AIDS, Lingkar Jalanan |
KOMPAS.com - “Mami tahu bagaimana perasaan temen-temen Mami yang disakiti dan dimanfaatkan lelaki. Mami tahu bagaimana temen-temen Mami susah meninggalkan jalanan. Mami tahu masalah mereka, karena dulu Mami bagian dari mereka,” kata Mami Vinolia.
Tidak mudah bagi Mami Vin, –begitu ia akrab disapa–, meninggalkan dunia malam. Namun posisinya sekarang, sebagai Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat Keluarga Besar Waria Yogyakarta (LSM Kebaya), sedikit banyak memang menggambarkan perjuangannya.
Di bawah kendali Mami (41), LSM Kebaya yang dibentuk pada Desember 2006 ini, mulai menyuarakan keinginan para waria dan menggelar banyak program. Selain itu mengisi sejumlah acara pemerintahan, berbagai seminar, serta acara seni-budaya.
Baca Kelanjutannya…(dejavu)
Possibly Related Posts:
December 11th, 2008 -- Posted in Dejavu Ngomong HIV/AIDS |
Setelah mendengar dan memperhatikan aspirasi dari orang terinfeksi HIV di seluruh Indonesia dalam Forum “Rapat Kerja Nasional Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia 1” (Rakernas JOTHI 1) yang dihadiri oleh perwakilan orang terinfeksi HIV dari 28 propinsi di Indonesia, maka JOTHI perlu mengeluarkan pernyataan sikap dan rekomendasi terkait dengan permasalahan- permasalahan terkini di dalam penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia.
Pernyataan Sikap JOTHI :
1. JOTHI menentang keras segala bentuk aturan dan produk hukum yang mendiskriminasikan orang  terinfeksi HIV dan populasi kunci lainnya di dalam pemenuhan Hak Asasi Manusia.
2. JOTHI menentang keras segala bentuk budaya yang dikembangkan baik oleh individu maupun secara sistemik yang menempatkan orang terinfeksi HIV dan populasi kunci lainnya tidak mempunyai pilihan di dalam pemenuhan Hak Asasi Manusia.
JOTHI memberikan rekomendasi kepada seluruh pihak yang melibatkan diri dan dilibatkan secara sadar dalam penanggulangan AIDS di Indonesia:
1. Segala bentuk aturan dan produk hukum yang bersinggungan dengan keberlangsungan hidup serta bermasyarakat orang terinfeksi HIV dan populasi kunci lainnya di Indonesia harus menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
2. Pelibatan secara bermakna orang terinfeksi HIV dan populasi kunci lainnya di dalam proses pembentukan produk hukum yang bersinggungan dengan keberlangsungan hidup dan bermasyarakat orang terinfeksi HIV dan populasi kunci lainnya harus menjadi prioritas.
3. Ketersediaan obat anti retro viral (ARV) sebagai penunjang kehidupan orang terinfeksi HIV di Indonesia harus mendapatkan jaminan penuh dari pemerintah.
4. Mekanisme distribusi, pelaporan serta monitoring dan evaluasi penggunaan obat anti retro viral (ARV) sebagai penunjang kehidupan orang terinfeksi HIV di Indonesia harus dibenahi.
5. Program PMTCT (Prevention Mother To Child Transmision) sebagai metode efektif pencegahan pertambahan infeksi baru HIV harus tersedia secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
6. Sistem Jaminan Kesehatan dengan berbasis komunitas orang terinfeksi HIV dan populasi kunci lainnya harus dikembangkan bersama oleh komunitas dan pemerintah Indonesia.
7. Segala bentuk hambatan dan pengkondisian yang menyebabkan orang terinfeksi HIV dan populasi kunci lainnya kesulitan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di dalam pemenuhan Hak Asasi Manusia harus dihilangkan.
JOTHI akan terus berjuang demi terpenuhinya Hak Asasi Manusia… !!!
Cipanas, 5 Desember 2008
A/n Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia (JOTHI)
ttd
Abdullah Denovan
Koordinator Nasional JOTHI
Sumbar juga telah membentuk jaringan ini, dan berharap adanya keterlibatan semua pihak dalam memutus rantai dan memberikan akses yang baik terhadap ODHA yang ada di Sumbar khususnya. Dengan semangat Tak lakang dek paneh, tak lapuak dek hujan…kami akan terus memperjuangkan terpenuhinya Hak asasi manuasia di Sumbar……
Salam….
JOTHI Sumbar
disadur dari sini
Possibly Related Posts:
Next »